Kota Malang, blok-a.com – Dibukanya kembali Alun-alun Merdeka Kota Malang memicu kembalinya aktivitas pedagang kaki lima (PKL) di kawasan sekitar. Sejumlah pedagang yang sebelumnya terdampak penutupan kini kembali berjualan, seiring meningkatnya kunjungan masyarakat ke ruang publik tersebut.
Selama Alun-alun Merdeka ditutup untuk renovasi, sebagian PKL harus mencari lokasi alternatif agar tetap memiliki pemasukan harian. Kondisi ini dialami Risman, penjual telur gulung, yang mengaku tidak lagi berjualan di sekitar alun-alun selama kawasan tersebut ditutup.
Ia mengatakan kebutuhan keluarga membuatnya tidak bisa menunggu hingga alun-alun kembali dibuka. Berjualan berpindah-pindah menjadi pilihan agar tetap mendapatkan penghasilan.
“Sebelum alun-alun dibuka kembali saya mangkal di sekolah-sekolah, mas. Karena kan alun-alunnya tutup. Saya punya tanggungan, anak istri saya, yang harus dibelanjain,” ujar Risman, Selasa (3/2/2026).
Menurut Risman, sebelum renovasi, Alun-alun Merdeka menjadi salah satu titik utama untuk mencari nafkah. Dalam sehari, pendapatannya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.
“Kalau dulu sebelum alun-alun direnovasi pendapatannya sehari bisa 200–300 ribuan,” katanya.
Setelah kembali berjualan pascapembukaan, ia belum dapat memastikan besaran pendapatan harian. Hal itu karena aktivitas jualan masih berada di hari-hari awal pembukaan.
Selain soal pendapatan, Risman juga menyoroti belum jelasnya penataan lokasi PKL di sekitar Alun-alun Merdeka. Ia mengaku kerap kebingungan terkait titik yang diperbolehkan untuk berjualan.
“Di Kantor Pos nggak boleh, di daerah alun-alun juga nggak boleh. Harapannya PKL ini disatukan di satu tempat. Kalau di sini ya sudah di sini, nggak usah dipindah lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Said, penjual cilok yang sebelumnya berjualan di kawasan Rampal, menyebut lonjakan pengunjung terlihat jelas pada hari-hari awal pembukaan Alun-alun Merdeka. Menurutnya, tingkat keramaian tersebut bahkan melampaui lokasi jualannya terdahulu.
“Kalau pembukaan memang rame, ngalah-ngalahin di Rampal. Sampai-sampai kayaknya seluruh Indonesia ke Alun-alun Merdeka,” kata Said.
Dalam kondisi ramai, Said mengaku omzetnya meningkat signifikan dibanding hari biasa. Ia menyebut pendapatan tertinggi terjadi saat akhir pekan.
“Kalau hari biasa pendapatanya 400 ribuan. Kemarin pas rame-rame apalagi pas hari Sabtu-Minggu itu bisa sampi 700 ribuan,” ujarnya.
Meski demikian, Said menilai keramaian tersebut masih dipengaruhi rasa penasaran masyarakat terhadap wajah baru Alun-alun Merdeka. Ia belum bisa memastikan apakah tingkat kunjungan akan bertahan dalam jangka panjang.
“Ini kan pembukaan, kebanyakan yang ke sini cuma penasaran wajah baru Alun-alun aja. Gak tau kedepannya apakah ramai atau sepi,” katanya.
Said juga berharap ke depan ada kejelasan aturan agar PKL tidak kembali berjualan dengan rasa waswas. Menurutnya, pengaturan yang jelas akan mencegah konflik di lapangan.
“Harapannya jangan sampai terjadi kucing-kucingan lagi dengan Satpol PP. Kalau bisa diadakan PKL, ada paguyuban, bayar harian atau mingguan atau bulanan,” ucapnya.
Hingga kini, aktivitas PKL di sekitar Alun-Alun Merdeka masih berlangsung dengan batasan area tertentu. Penataan lanjutan kawasan pascapembukaan pun menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah kota seiring meningkatnya kunjungan masyarakat. (ber/bob)




