Sejarah Kereta Api Kota Malang, Jadi Transportasi Tertua

Sejarah Kereta Api Kota Malang, Jadi Transportasi Tertua
Sejarah Kereta Api Kota Malang, Jadi Transportasi Tertua

 

Kota Malang, Blok-a.com – Sejarah terkait kereta api memang tidak ada habisnya. Di Kota Malang sendiri, kereta api merupakan transportasi tertua.

Secara geografis, Kota Malang sendiri merupakan titik akhir dari jalur kereta api pertama yang dibangun oleh perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS), yakni lintas Surabaya – Pasuruan – Malang.

Pada tanggal 20 Juli 1879, jalur sepanjang 112 km ini secara resmi diresmikan oleh Gubernur Jenderal Mr. J. W. van Lansberge melalui upacara yang meriah, bersamaan dengan pembukaan Stasiun Malang.

Dua puluh tahun berikutnya, Stasiun Malang mengalami renovasi dengan memperbesar bangunannya dan memperpanjang kanopinya. Pada tahun 1914, status Malang naik menjadi Gementee, kemudian menjadi ibukota Karesidenan Pasuruan.

Peningkatan status ini memicu pemerintah Hindia Belanda untuk merencanakan pembangunan kota di bawah pimpinan arsitek terkenal, Ir. Thomas Karsten.

Rencana penataan kota sudah muncul sejak tahun 1920, dan salah satu permasalahan yang harus diatasi adalah perjalanan kereta api. Kala itu, Stasiun Malang berada di sebelah timur jalur kereta, sementara perkembangan kota mengarah ke sebelah barat jalur kereta. Pada tahun 1927, gagasan pemindahan stasiun ke sebelah barat jalur kereta diwujudkan.

Stasiun baru yang dimiliki SS selesai dibangun pada tahun 1941 dengan desain yang dirancang oleh J van dr Eb, seorang kepala teknisi SS.

Desain stasiun mengusung gaya monocoque, mencerminkan arsitektur modern stasiun khas Eropa. Stasiun ini memiliki peron tinggi yang terhubung dengan terowongan bawah tanah sebagai akses pejalan kaki, serupa dengan Stasiun Pasar Senen di Jakarta.

Pembangunan Stasiun Malang direncanakan pada saat desas-desus perang, yang menyebabkan pembuatan pintu di terowongan berbahan baja tebal. Pintu tersebut dimaksudkan sebagai perlindungan potensial dari ancaman bom. Selain itu, atap ketiga peron stasiun terbuat dari beton modern sebagai langkah perlindungan.

Kanopi di Stasiun Malang menunjukkan kekuatannya dengan kemiripan desain pada kanopi pasca perang yang dibangun di Rotterdam CS.

Sebagai bagian dari warisan sejarah, Stasiun Malang menggambarkan perjalanan panjangnya, dari awal pembangunan hingga penyesuaian demi mengikuti perkembangan kota dan keadaan zaman, tetapi tetap mempertahankan ciri khas arsitektur Eropa yang modern. Hingga kini, Stasiun Kota Malang masih aktif beroperasi dan dijaga ciri khasnya. (mg2/bob)

Exit mobile version