Kota Malang, Blok-a.com – Kota Malang harus bangga dengan sosok mahasiswa berprestasi satu ini. Ya, dia adalah Gama Brasto Pamungkas. Laki-laki kelahiran 2001 ini telah mengepakkan sayap di bidang tarik suara hingga ke Istana Negara di ibu kota.
Mahasiswa berprestasi asal Malang ini tergabung dalam paduan suara Gita Bahana Nusantara yang tampil dalam Upacara Peringatan Kemerdekaan Indonesia di Istana Negara, bulan Agustus lalu.
Perjalanannya yang membanggakan itu dilewatinya dengan berbagai tempaan mental dan latihan. Gama, sapaannya, juga pernah menjadi murid dari sang penyanyi legenda, Titiek Puspa.
“Sewaktu SMA, saya terpilih menjadi peserta belajar bersama maestro Titik Puspa yang diselenggarakan oleh Kemdikbud. Dibimbing dan dibina langsung oleh Titiek Puspa selama 2 minggu,” ujar dia.
Dari sana, laki-laki kelahiran Mojokerto ini semakin terlatih secara teknis vokal. Karena terpikat dengan dunia tarik suara dan musik semakin memudahkan langkah Gama dalam belajar. Kini, Gama bisa menguasai berbagai genre lagu, seperti pop, campursari, dangdut, keroncong, dan juga mengikuti paduan suara.
Untuk tampil di istana negara, Gama harus melewati seleksi ketat. Tidak semua penyanyi paduan suara bisa lolos dengan mudah. Pasalnya, sebagai penampil di istana negara harus memiliki wawasan soal aneka lagu dan aliran musik. Stamina dan energi yang kuat menjadi aspek penting. Berbagai latihan vokal tidak boleh putus sehari saja. Partitur telah menjadi materi penting sehari-hari di dunia paduan suara. Namun, semua itu terbayarkan dengan performanya yang apik. Gama berhasil menjadi anggota paduan suara Gita Bahana Nusantara berkat kerja kerasnya.
Sepulang dari Jakarta, Gama tidak berhenti disitu saja. Kini dengan segenap ilmu pengetahuan dan kecintaannya pada dunia musik, dia kerap menjadi juri di berbagai kompetisi bernyanyi.
“Tahun ini menjadi juri lomba nyanyi dangdut di Rektor Cup UMM 2023, dan juri lomba nyanyi MOTA FEST 2023,” papar dia.
Kecintaannya terhadap dunia tarik suara sejak kecil memang sulit dihapuskan. Sejak kelas 4 SD, dia sudah mendalami olah vokal. Hingga rutin tampil di panggung Pacet Mini Park hingga kelas 2 SMA.
Ketika ditanya alasan, dia menyebut dengan musik bisa menjadi sarana penyampaian perasaan.
“Latar belakang saya memilih musik sebagai passion karena dengan musik kita dapat terhubung satu sama lain. Dengan musik kita dapat menyampaikan emosi-emosi yang bisa dirasakan oleh pendengar,” pungkas mahasiswa FISIP UB ini. (mg2/bob)




