Tragedi Mergosono Malang 1947, Puluhan Warga Tionghoa Dibakar Hidup-hidup

Dokumentasi penemuan korban Tragedi Mergosono pada 1947. (istimewa)
Dokumentasi penemuan korban Tragedi Mergosono pada 1947. (istimewa)

Kota Malang, blok-a.com – Tragedi Mergosono menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Kota Malang. Di tengah situasi Agresi Militer Belanda I dan peristiwa Malang Bumi Hangus, sekitar 30 warga keturunan Tionghoa menjadi korban pembunuhan setelah dituduh sebagai mata-mata Belanda.

Sejarawan Malang, Agung H Buana menjelaskan, tragedi tersebut terjadi pada rentang 31 Juli hingga 3 Agustus 1947. Menurutnya, kekacauan perang, kepanikan masyarakat, hingga simpang siurnya informasi menjadi faktor yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.

“Ini sebenarnya berawal dari kesimpangsiuran situasi. Kondisinya tidak jelas sehingga muncul banyak tuduhan yang akhirnya menjadikan warga Tionghoa sebagai korban,” kata Agung kepada blok-a.com, Rabu (22/7/2026).

Ia menjelaskan, para korban terdiri dari laki-laki dan perempuan yang dikumpulkan sebelum dibakar hidup-hidup. Peristiwa terjadi di tiga bangunan industri di kawasan Mergosono, yakni Pabrik Mi Mergosono, Pabrik Rokok Faroka, dan Pabrik Tapioka merek Kian Guan.

Dokumentasi penemuan korban Tragedi Mergosono pada 1947. (istimewa)
Dokumentasi penemuan korban Tragedi Mergosono pada 1947. (istimewa)
Suasana Jalan Mergosono, Kota Malang, saat ini. Kawasan ini menjadi salah satu lokasi yang menyimpan jejak Tragedi Mergosono pada 1947. (blok-a.com/ M Berril Labiq)
Suasana Jalan Mergosono, Kota Malang, saat ini. Kawasan ini menjadi salah satu lokasi yang menyimpan jejak Tragedi Mergosono pada 1947. (blok-a.com/ M Berril Labiq)

“Mereka dikumpulkan menjadi satu lalu dibakar. Lokasinya bukan hanya di pabrik mi, tetapi juga di Pabrik Rokok Faroka dan Pabrik Tapioka Kian Guan,” ujarnya.

Agung menuturkan, akar persoalan telah muncul sejak masa pendudukan Jepang pada 1942 hingga 1945. Saat itu, sebagian aktivitas perekonomian yang sebelumnya dikuasai Belanda beralih ke tangan warga Tionghoa. Kemudian, muncul anggapan di tengah masyarakat bahwa sebagian pedagang mengambil keuntungan yang memberatkan masyarakat pribumi, termasuk melalui praktik penyelundupan barang.

“Pandangan itu kemudian berkembang menjadi sentimen. Akibatnya muncul anggapan bahwa warga Tionghoa tidak memiliki empati terhadap kondisi masyarakat pribumi saat itu,” katanya.

Memasuki 1946 hingga 1947, Indonesia berada dalam masa yang dikenal sebagai masa bersiap. Masyarakat bersiap menghadapi kemungkinan kembalinya Belanda setelah proklamasi kemerdekaan.

Situasi semakin mencekam ketika tentara Belanda mendarat di Pantai Pasir Putih, Situbondo, pada 22 Juli 1947 sebelum bergerak menuju Malang melalui Probolinggo dan Pasuruan.

“Ketika kondisi perang semakin dekat, masyarakat sulit membedakan mana kawan dan mana lawan. Dalam situasi seperti itu muncul tuduhan bahwa warga Tionghoa menjadi mata-mata Belanda,” ujar Agung.

Saat Belanda memasuki Kota Malang pada 31 Juli 1947 dan pertempuran terjadi di kawasan Jalan Salak, kelompok warga Tionghoa yang sebelumnya dituduh tersebut ditangkap.

“Mereka kemudian disiram bensin dan dibakar di dalam pabrik. Salah satu korbannya adalah Sie Bian Kiet atau Freddy Sie, mantan pesepak bola Hindia Belanda yang pernah tampil di Piala Dunia 1938,” katanya.

Agung menambahkan, para korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Selain terbakar, terdapat dugaan mereka terlebih dahulu mengalami tindak kekerasan sebelum akhirnya dibakar hidup-hidup. Seluruh korban kemudian dimakamkan secara massal pada 3 Agustus 1947. Bertahun-tahun kemudian, kerangka para korban diketahui digali kembali untuk dikremasi sebelum abunya dilarung di Pantai Pasir Putih.

Meski demikian, Agung menegaskan tidak seluruh warga Tionghoa mengalami nasib serupa. Banyak di antaranya selamat karena penangkapan saat itu tidak dilakukan secara acak. Bahkan, pada masa perjuangan kemerdekaan, sejumlah warga Tionghoa juga tercatat menjadi relawan kesehatan yang tergabung dalam organisasi Palang Merah dan berpusat di Rumah Sakit Panti Nirmala.

“Banyak warga Tionghoa yang selamat. Kalau melihat peristiwa tahun 1945, mereka juga ada yang menjadi relawan kesehatan melalui Palang Merah,” ujarnya.

Hingga kini, lanjutnya, masih terdapat perbedaan pandangan mengenai penyebab pasti tragedi tersebut. Sebagian pihak menilai pembunuhan itu merupakan salah sasaran akibat kepanikan situasi perang, sementara pendapat lain menyebut sebagian korban memang diduga memiliki hubungan dengan Belanda.

“Ada yang mengatakan itu salah sasaran karena situasi yang panik. Ada juga yang menyebut sebagian memang diduga bekerja sama dengan Belanda. Itu menjadi bagian dari catatan sejarah yang sampai sekarang masih terus dikaji,” pungkasnya.(bob)

Jurnalis sekaligus videographer Blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu pemerintahan, paeristiwa, kriminal dan pendidikan di Malang Raya.
Redaktur pelaksana sekaligus Jurnalis blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu sosial, politik, dan peristiwa terkini di Malang Raya.