Kota Malang, blok-a.com – Hasil uji laboratorium terhadap sampel Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi siswa SDN Kauman 1 Kota Malang mengungkap adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada menu olahan telur. Temuan tersebut menjadi dasar Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menghentikan sementara produksi dan distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukoharjo sembari menunggu evaluasi.
Ketua Satgas MBG Kota Malang sekaligus Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Erik Setyo Santoso, mengatakan seluruh menu yang disajikan kepada siswa pada Selasa (21/7/2026) lalu telah diperiksa di laboratorium. Dari hasil pengujian, hanya olahan telur yang ditemukan mengandung bakteri E. coli melebihi batas yang diperbolehkan.
“Seluruh jenis makanan yang diproduksi dan dikonsumsi pada hari itu kami ambil sampelnya. Ada satu jenis makanan yang kadar bakteri E.Coli-nya di atas ketentuan, yaitu olahan telur,” ujar Erik, Selasa (27/7/2026).
Saat itu, menu MBG terdiri dari nasi, capcay manis, telur ceplok kuah, tempe daun jeruk, dan susu. Dugaan keracunan mulai dilaporkan sehari setelah makanan dikonsumsi, sedangkan pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorium dilakukan pada Kamis (23/7/2026).
Berdasarkan hasil uji, seluruh menu selain olahan telur dinyatakan memenuhi standar keamanan pangan. Meski demikian, Pemkot Malang memutuskan menghentikan sementara operasional SPPG Sukoharjo yang menjadi penyedia MBG bagi SDN Kauman 1.
Erik mengungkapkan, penghentian distribusi belum memiliki batas waktu. Pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap prosedur operasional standar (SOP) produksi di SPPG tersebut, sekaligus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Untuk sampai kapannya, kami akan melihat pembenahan-pembenahan dalam SOP produksi dari SPPG yang bersangkutan,” ungkapnya.
Pemkot Malang juga terus memantau kondisi para siswa yang terdampak. Dari 35 siswa yang sebelumnya mengeluhkan sakit perut, mual, hingga muntaber, sebagian masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Erik memastikan seluruh biaya pengobatan menjadi tanggung jawab pihak SPPG sebagai penyedia makanan.
“Intinya, anak-anak ini mendapatkan penanganan terbaik dan cepat pulih,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Batik Tulis Celaket, Abdul Hanan Jalil, selaku mitra SPPG Sukoharjo, menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Namun, ia menilai penelusuran penyebab dugaan keracunan seharusnya dilakukan lebih cepat agar hasil investigasi lebih akurat.
Menurutnya, laporan dari pihak sekolah baru diterima sehari setelah makanan dikonsumsi, sedangkan sampel baru diambil dua hari kemudian. Kondisi tersebut, kata dia, menyulitkan penelusuran karena masih perlu diketahui makanan lain yang dikonsumsi siswa setelah menerima MBG.
“Karena kejadiannya tidak langsung, jadi kami bingung. Seharusnya pasca makan MBG itu makan apa lagi, itu yang harus ditracking. Jadi jangan setiap persoalan ditimpakan hanya ke MBG. Sampel telur, nasi, dan semua makanan hari Selasa, itu diambil uji lab hari Kamis, kan repot juga kami. Sampel hari Selasa tapi diambil hari Kamis pukul 11.00,” ujarnya.
SPPG Sukoharjo diketahui setiap hari memasok makanan bergizi kepada 2.608 penerima manfaat mulai jenjang TK, SD, SMP hingga SMA. Hingga kini, laporan dugaan keracunan hanya terjadi di SDN Kauman 1, sementara sekolah lain yang menerima distribusi makanan dari SPPG yang sama belum melaporkan kejadian serupa. (yog/bob)








