Kota Malang, blok-a.com – Imam Buchori, Kepala Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Malang, mengungkapkan bahwa perlengkapan dan peralatan yang saat ini dimiliki oleh PMI Kota Malang butuh diremajakan.
Imam menyatakan bahwa banyak alat PMI Kota Malang yang sudah mencapai usia 15 tahun, melebihi umur rata-rata alat sebesar 5 sampai 10 tahun. Hal ini mengindikasikan perlunya peremajaan alat untuk memastikan akurasi.
“Ini kita sudah ada yang 15 tahun. Masih ada yang 15 tahun. Padahal umur alat itu paling tidak 5 sampai 10 tahun. Sehingga alat ini perlu peremajaan,” paparnya.
Imam mengatakan salah satu contoh alat yang berusia tua adalah refrigerated centrifuge, yang berumur 15 tahun.
“Namanya refrigerated centrifuge (RC) alat untuk memisahkan plasma dan trobosit dari Darah. Umurnya 15 tahun tetapi setiap tahun kita kalibrasi,” ungkap Imam.
Untuk mengatasi masalah ini, PMI Kota Malang telah mengajukan anggaran sebesar 2 miliar lebih kepada Pemda, dengan harapan agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi.
“Kita kemarin ngajukan 2 miliar tebih ke Pemda. Mudah-mudahan ini semua bisa direalisir,” tutur Imam Buchori.
Imam juga menyebut mengganti peralatan secara mandiri mungkin terlalu memberatkan bagi PMI Kota Malang. Oleh karena itu, mereka mengajukan permohonan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mendukung upaya ini.
“Kalau kita untuk menmbiiayai sendiri mungkin terlalu… Beban kita terlalu banyak. Oleh karena itu kita mengajukan kepada pemda untuk bisa membantu kita,” tambahnya.
Salah satu kendala yang dihadapi adalah impor kantong darah dari Filipina dan Thailand, yang membuatnya menjadi mahal. Namun, Imam Buchori menyebut bahwa PMI tidak menerima sumbangan dari PMI nasional, melainkan mengandalkan hibah dari Pemda.
“PMI saya pikir tidak ada. Tidak ada bantuan dari PMI pusat maupun PMI provinsi. Yang ada kita Alhamdulillah kita dapat hibah dari Pemda itu. Yang semula kita tahun 2023 Rp 700 juta kita turun menjadi Rp 500 juta tahun ini,” jelasnya.
Ia mengatakan, dana hibah sebesar Rp 500 juta itu masih di bawah angka yang sebenarnya mereka butuhkan.
“Dana hibah ini kita gunakan untuk pelayanan posko 24 jam, listrik, air minum, dan yang lainnya. Kita listrik saja kita membutuhkan Rp 36 juta per bulan. Kalau itu hanya Rp 500 juta ya, mungkin masih kurang untuk operasional kita,” ujarnya.




