Kota Malang, blok-a.com – Kota Malang terus berkembang pesat, akibatnya ada banyak perubahan pada berbagai hal. Salah satu hal yang paling mendapat perhatian serius masyarakat adalah kualitas sistem drainase di Kota Malang yang berhubungan langsung dengan mitigasi banjir.
Kota Malang dalam beberapa tahun ini memang dihantui banjir yang melanda sejumlah titik saat hujan turun.
Terkait hal ini, Kepala Dinas PUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, mengatakan bahwa kondisi drainase di kota ini sebenarnya secara umum sudah memadai.
“Jadi kondisi drainase di Kota Malang ini secara umum sudah memadai,” ujarnya saat diwawancara Blok-A.com.
Namun, seiring dengan perkembangan penduduk dan aktivitas masyarakat, kapasitas drainase yang ada saat ini tidak lagi mencukupi.
Dari rancang bangun awal yang menggunakan diameter drainase 30-40 sentimeter, secara matematis masih cukup untuk menampung dan mengalirkan air hujan. Namun karena pesatnya pembangunan, kini perthitungan itu sedikit bergeser.
“Hanya saja karena perkembangan masyarakat juga yang dulu katakanlah mungkin pakai diameter 30 sentimeter atau 40 sentimeter sudah cukup. Tapi dengan perkembangan penduduk,dengan perkembangan masyarakat dan aktifitas masyarakat mungkin 30-40 sentimeter itu sudah tidak,” terangnya.
Selain pembangunan secara langsung mempengaruhi luasan bukaan drainase, meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas masyarakat, seperti bertambahnya pemukiman dan industri, menghasilkan lebih banyak air buangan yang perlu dialirkan.
Oleh karena itu, DPUPRPKP Kota Malang memandang perlu untuk melakukan peningkatan kapasitas drainase. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya genangan air yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan membahayakan kesehatan.
“Ukuran 30-40 sentimeter sekarang mungkin sudah tidak memadai lagi sehingga perlu dilakukan peningkatan,” terangnya.
Tak hanya itu, karena pembangunan yang terjadi di Kota Malang juga kerap kali menutup permukaan drainase. Karenanya Dandung menganjurkan agar masyarakat lebih sadar tentang pentingnya bukaan sistem aliran air tersebut.
Penutupan permukaan saluran air demi pembangunan mandiri oleh masyarakat yang banyak dilakukan saat ini harusnya disadari sebagai sesuatu yang berpotensi menjadi senjata makan tuan untuk masyarakat itu sendiri.
“Oleh karena itu saya himbau kesadaran masyarakat juga untuk tidak menutup saluran air. Karena toh kalau terjadi apa-apa masyarakat sendiri yang dirugikan,” ujarnya.








