Kabupaten Malang, blok-a.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang menyiapkan langkah pendampingan bagi pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) seiring pelaksanaan program yang terus berjalan. Upaya ini dilakukan untuk terus mendukung program prioritas pemerintah pusat dan tetap menjaga lingkungan dari potensi pencemaran.
Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Malang, Nuning Nurlaila, menyampaikan setiap kegiatan SPPG berpotensi menghasilkan limbah, baik cair maupun padat, sehingga perlu dikelola sesuai ketentuan.
“Limbah itu pasti ada dua, limbah cair dan limbah padat. Limbah cair harus melalui pengelolaan teknis, ada manajemennya, dan itu sangat tertentu,” ujar Nuning.
Sebagai langkah antisipatif, DLH membuka ruang pendampingan lanjutan bagi para pengelola, mulai dari monitoring dan evaluasi (monev), konsultasi langsung, hingga pertemuan secara daring.
“Kalau diperlukan pertemuan lanjutan, baik monev, datang ke kantor, atau online, kami siap untuk membersamai secara intensif,” katanya.
Untuk limbah padat, khususnya organik, pengelola didorong melakukan pengolahan mandiri, seperti melalui metode komposting maupun pemanfaatan maggot. Selain itu, kerja sama dengan pihak ketiga juga menjadi opsi.
“Yang organik sangat disarankan dikelola sendiri, bisa lewat composting atau maggot. Atau bisa juga kerja sama dengan pihak ketiga,” jelasnya.
Sementara sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat disalurkan melalui TPS 3R atau bank sampah. Nuning juga menekankan pentingnya pemenuhan dokumen lingkungan berupa Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL), yang umum digunakan untuk usaha skala kecil dan menengah.
“Di SPPL itu ada komitmen yang harus dipenuhi. Kalau menghasilkan limbah tertentu, ada langkah-langkah yang harus dilakukan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengurusan SPPL kini dapat dilakukan secara daring melalui sistem OSS maupun Amdalnet. Ia menambahkan, DLH mengedepankan pendekatan pembinaan dalam proses pendampingan agar pengelola dapat memahami dan menerapkan pengelolaan lingkungan secara bertahap.
“Yang kami kedepankan pembinaannya dulu. Jadi kami membersamai,” pungkasnya. (yog/bob)




