Kabupaten Malang, blok-a.com – Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Malang dipastikan batal direalisasikan. Proyek strategis tersebut kini dialihkan ke wilayah Pakis, Kabupaten Malang, yang dinilai lebih siap dari sisi teknis dan infrastruktur.
Akademisi Universitas Brawijaya, Profesor Eko Ganis, menyebut sejumlah faktor menjadi alasan utama Kota Malang tidak lagi dipilih sebagai lokasi pembangunan. Salah satunya terkait keterbatasan lahan dan kondisi wilayah yang padat.
“Masalahnya ada pada kesiapan lahan, akses, serta kondisi wilayah yang padat penduduk. Infrastruktur di sana harus banyak perubahan, bahkan perlu pembangunan jembatan baru yang biayanya miliaran,” ujarnya saat ditemui usai meninjau calon lokasi pada Minggu (29/3/2026).
Ia menerangkan, pembangunan PSEL membutuhkan lahan minimal lima hektare. Lokasi sebelumnya di TPU Supiturang dinilai tidak memenuhi kebutuhan tersebut, ditambah kondisi lahan yang kompleks.
“Di dalamnya ada tumpukan sampah yang bisa sampai 20 meter lebih tingginya. Itu harus diangkat dulu, tentu membutuhkan biaya besar,” jelasnya.
Menurut Eko, proyek ini tidak bisa diputuskan sepihak karena merupakan konsep aglomerasi Malang Raya yang melibatkan Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.
“Ini konsepnya aglomerasi, jadi harus ada kesepakatan bersama antarwilayah. Tidak bisa diputuskan sepihak,” tambahnya.
Kesepakatan tersebut telah dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ia menilai komitmen lintas daerah menjadi kunci percepatan realisasi proyek.
“Yang penting itu komitmen bersama. Bersyukur sudah ada MoU dengan gubernur, dan semua pihak berkomitmen,” katanya.
Pemilihan Pakis sebagai lokasi baru dinilai strategis karena berada di tengah kawasan Malang Raya dan memiliki akses yang memadai, termasuk kedekatan dengan jalan tol.
“Pakis itu berada di tengah-tengah dan aksesnya sangat baik, dekat tol. Jadi mobilitas truk sampah akan lebih mudah,” ujarnya.
Dari sisi biaya operasional, distribusi sampah juga dinilai lebih efisien.
“Kalau lewat tol biayanya masih murah, sekitar Rp 3.000 sampai Rp 4.500 dari Singosari. Itu jauh lebih efisien,” jelasnya.
Eko menambahkan, proyek PSEL ini diperkirakan menelan investasi hingga Rp3 triliun. Selain menjadi solusi pengelolaan sampah, proyek ini juga berpotensi menyerap tenaga kerja serta menghadirkan teknologi ramah lingkungan.
“Ini investasi besar. Kalau tidak dimanfaatkan, kita yang rugi. Selain itu, bisa menyerap tenaga kerja dan teknologi yang digunakan juga diharapkan ramah lingkungan,” ungkapnya. (yog/bob)








