Pernah Jadi Buruh Cuci, Guru Besar Unisma Motivasi Siswa SMA Islam Ma’arif Lanjut Kuliah

Guru Besar Fisiologi Tumbuhan Unisma, Prof. Istirochah Pujiwati saat diwawancarai awak media (foto: blok-a.com/ M Berril Labiq)
Guru Besar Fisiologi Tumbuhan Unisma, Prof. Istirochah Pujiwati saat diwawancarai awak media (foto: blok-a.com/ M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Guru Besar Fisiologi Tumbuhan Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. Dr. Ir. Hj. Istirochah Pujiwati, MP., mengajak siswa SMA Islam Ma’arif untuk tidak menjadikan keterbatasan ekonomi sebagai alasan berhenti mengejar pendidikan tinggi.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Istirochah saat menggelar pengabdian masyarakat melalui Program Hibah Institusi (HIMA) Unisma di SMA Islam Ma’arif, Sabtu (15/8/2026). Selain memberikan pelatihan budidaya microgreen, ia juga memperkenalkan berbagai peluang studi dan beasiswa kepada para siswa.

Prof. Istirochah mengatakan, program tersebut berangkat dari masih rendahnya angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia. Berdasarkan data yang ia sampaikan, APK pendidikan tinggi nasional masih berada di kisaran 31-32 persen.

Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi, menurutnya, perlu ikut mengambil peran dalam meningkatkan jumlah lulusan SMA yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

SMA Islam Ma’arif dipilih karena secara statistik terdapat penurunan minat lulusan sekolah tersebut untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Di sisi lain, sekolah tersebut selama ini menjadi salah satu sekolah yang konsisten mengirimkan lulusannya untuk kuliah di Unisma.

“Saya ingin Unisma berkontribusi terhadap peningkatan APK Indonesia. Secara mikro, kenapa saya memilih SMA Islam Ma’arif? Karena secara statistik terjadi penurunan minat lulusan siswanya untuk masuk perguruan tinggi,” ujar Prof. Istirochah.

Pakar Fisiologi Tumbuhan itu menyebut, keterbatasan ekonomi tidak seharusnya menjadi alasan bagi siswa untuk berhenti mengejar pendidikan tinggi. Ia pun menceritakan pengalamannya saat diterima kuliah di Universitas Brawijaya melalui jalur PMDK, tetapi terkendala biaya.

Untuk membiayai kuliah, ia sempat bekerja sebagai buruh cuci pakaian anak kos. Dari penghasilan tersebut, ia mengumpulkan biaya untuk membayar SPP semester pertama sebesar Rp120 ribu.

“Saya buruh cuci bajunya anak kos untuk dapat bayar SPP Rp120.000 semester pertama. Ketidakberuntungan aspek ekonomi jangan berhenti untuk tidak studi lanjut,” ujar Prof. Istirochah.

Perjuangannya berlanjut hingga jenjang doktoral. Ia mendapatkan sejumlah beasiswa, termasuk beasiswa Supersemar, program URGE (University Research for Graduate Education) yaitu kerja sama Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia, hingga beasiswa doktoral dari pemerintah. Ia kemudian menjadi lulusan terbaik program doktor Universitas Brawijaya dengan IPK 3,97.

“Alhamdulillah semester dua sudah dapat beasiswa Supersemar dari Presiden Soeharto,” kenangnya.

Selain motivasi, siswa juga dikenalkan dengan peluang beasiswa dan kehidupan perkuliahan melalui kehadiran mahasiswa Unisma dari Program Studi Agroteknologi. Mereka turut membagikan pengalaman sebagai penerima Beasiswa Juara dan Beasiswa Program Santri Berprestasi (PBSB) dari Kementerian Agama.

Prof. Istirochah juga melibatkan Career Development Center (CDC) Unisma untuk membantu siswa mengenali pilihan program studi dan arah karier yang sesuai dengan minat mereka.

Kegiatan tersebut kemudian menghasilkan tindak lanjut berupa penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unisma dengan SMA Islam Ma’arif. Kerja sama mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, serta pengembangan sumber daya manusia.

Kerja sama tersebut juga berpeluang diperluas ke tingkat yayasan. Prof. Istirochah menyebut ke depan Unisma berencana menjalin kerja sama dengan Yayasan Ma’arif yang menaungi SMA, MA, dan SMK Ma’arif.

“Ke depan, Insyaallah nanti Pak Rektor akan melakukan MoU antara Yayasan Ma’arif,” ujarnya.

Ia menegaskan, program pengabdian tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan kedua tentang tanpa kelaparan, tujuan keempat terkait pendidikan berkualitas, serta tujuan kedelapan mengenai pertumbuhan ekonomi inklusif. (ber)

Exit mobile version