Atlet Internasional Peselancar Ombak Asli Malang Meninggal Dunia di Taiwan, Ini Sosoknya

Kota Malang, Blok-a.com – Atlet peselancar ombak asli Malang, Febryansyah tutup usia.

Dari data yang diterima Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) Jawa Timur, peselancar asal Malang kelahiran 1999 ini mengalami kecelakaan di Taiwan ketika mengendarai sepeda motor.

“Saat temen-temen tidur, malam itu, mungkin cari makan, dia mengendarai sepeda motor dan terjadilah kecelakaan tersebut menabrak pohon dan meninggal,” beber Ketua PSOI Jatim, Bawon Santoso, ketika ditemui di kantor PSOI Kota Malang, pada (15/11/2023).

Febry bersama kontingen atlet asal Indonesia lainnya tengah melakukan kompetisi selancar air QS 5000 di Taiwan. Kecelakaan tersebut terjadi pada 10 November silam.

Beberapa hari sebelum meninggal, Febry sempat bertemu dengan peselancar internasional, Rio Waida, di Nias.

Santoso menyebut, PSOI Jawa Timur sangat kehilangan atas meninggalnya Febryansyah. Dalam dunia selancar air, dia dikenal sebagai sosok baik, ramah dan tegas.

“Dia konsisten apa yang diomongkan. Dia asli Karangploso,” beber Santoso.

Febry telah terjun ke dunia selancar air sejak usia 9 tahun. Mereka pernah bertemu di Pulau Dewata Bali dalam kegiatan surfing. Lama tidak bertemu, akhirnya mereka bersua lagi ketika Santoso menjadi Ketua PSOI Jatim.

Sebagai atlet yang sudah terdaftar di PSOI dan KONI Jatim, Febry dikenal sangat produktif. Berbagai kejuaraan selancar air diikutinya dan selalu membawa pulang hasil.

“Prestasinya banyak sekali. Saking banyaknya kami sampai lupa. Seperti kita juga eksibisi dapat perunggu. Mewakili Jatim di rapon itu medali emas,” beber Santoso.

Febryansyah telah meraih medali perunggu di PON XX 2020 Papua tahun 2021. Setelah itu dia menempati peringkat satu di Liga Surfing Indonesia 2023 setelah mendapat poin tertinggi dalam pertandingan di Pantai Padma, Legian, Bali.

Baru-baru ini, dia juga meraih Juara 1 Shortboard Putra Babak Kualifikasi PON XXI 2024 Aceh di Sumatera Utara.

Namanya tengah melambung tinggi dengan tampil di ajang internasional, yakni di QS500 Nias dan Taiwan.

Santoso menceritakan bagaimana Febryansyah berlatih. Dalam sehari, dia melakukan latihan di darat selama 2 jam. Kemudian, dia langsung berlatih di tengah ombak. Dia berlatih di bawah peselancar kondang, Pepen Hendrik.

“Kami sangat berduka atas meninggalnya Febryansyah, Jawa Timur dan Kota Malang telah kehilangan atlet terbaik,” pungkas Santoso, berduka. (mg2/bob)