Kota Malang, Blok-a.com – Beredar di sosial media soal cekcok antar pengguna roda empat dan seorang juru parkir di Koridor Kayutangan Heritage.
Terdapat unggahan di akun Instagram @infomalangan tentang bagaimana kronologi juru parkir yang dituduh membentak saat melayani parkir di koridor Kayutangan Heritage itu.
Juru parkir Kayutangan Heritage yang terlibat, Chandra, memberikan klarifikasi soal hal tersebut. Dia menjelaskan bahwa kala itu dia mengatur parkir di di bawah baliho Jalan Basuki Rahmat nomor 17.
“Itu saya suruh kanan, mundur, biar bisa buat dua mobil,” kata dia, ketika diwawancara wartawan Blok-a.com, pada (28/12/2023).
Lelaki itu juga mengelak soal dugaan membentak, hanya suaranya saja yang tinggi di jarak yang cukup jauh. Suaranya meninggi itu karena dia takut tidak didengar dan kala itu dia takut mobil yang hendak terparkir itu ditabrak kendaraan yang mengarah dari sisi selatan Kayutangan.
“Jaraknya jauh sampai sana, takut keterak motor (terhalang motor),” kata dia.
Dia pun kaget, saat wanita dalam mobil itu mengeluarkan ponsel dan mengancam hendak merekam perbuatannya.
“Ya saya persilahkan orang saya gak salah, malah ngancam mau viralin,” tuturnya
Berdasarkan kronologi yang diposting @infomalang, hal itu bermula ketika seorang wanita berhijab tengah parkir bersama sang ibu untuk melakukan foto endorsement.
Namun, setelah mobil terparkir, datanglah oknum juru parkir yang memintanya bergeser. Oknum tersebut kemudian membentak sambil memaksa untuk menggeser mobil.
Berdasarkan pantauan wartawan blok-a.com, peristiwa tersebut terjadi tepatnya di bawah bangunan baliho berwarna biru. Hal itu nampak dari kecocokan foto yang beredar dan di lokasi.
Barisan parkir tersebut nampak hanya bisa menampung 6 hingga 7 mobil saja dengan jarak yang ‘mepet’ dengan pintu masuk dan gang Kayutangan Heritage.
Menurut Ketua RW 2 sekaligus salah satu pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Yunar Munar Mulya, memberikan klarifikasi.
Yunar menjelaskan, bahwa juru parkir yang viral tersebut bukanlah warga Kayutangan Heritage.
“Itu bukan warga kami kalau yang viral kemarin itu,” ujarnya.
Menurut Yunar, warga lokal asli yang mengelola parkir di area Kayutangan hanya bertugas pada malam hari.
“Kalau warga kami itu malam, kalau anak itu (juru parkir) bukan warga kami,” ujar dia.
Juru parkir yang viral tersebut diberikan kewenangan langsung oleh pengusaha swasta, bukan dari Pokdarwis.
Untuk pelayanan parkir asli warga, Yunar menegaskan tidak mungkin berlaku seperti itu. Mereka akan tampil dengan rapi, ramah, serta memberikan pelayanan parkir yang paripurna.
Pihaknya merasa malu atas kejadian seperti ini. Sebagai tempat wisata, tidak seharusnya pelayanan seperti itu.
“Ini jelas memalukan, tidak mencerminkan Kayutangan sama sekali. Ya segera kami koordinasi dengan Dishub, Polres dan Dispar supaya bisa sama-sama kita perbaiki sektor wisata ini agar lebih baik,” pungkasnya. (wdy/bob)



