Kota Malang, blok-a.com – Baru-baru ini, Kota Malang menjadi sorotan publik karena beberapa kasus terkait penggunaan petasan yang menimbulkan gangguan.
Mulai dari insiden petasan yang mengganggu ibadah Jemaah Masjid Jami di Alun-Alun hingga ledakan signage Kayutangan Heritage setelah sholat Idul Fitri oleh seorang pemuda.
Untuk kasus terbaru, yaitu peledakan Signage Kayutangan Heritage Kota Malang dengan petsan. Untuk kasus di Kayutangan ini, Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang Laode KB Al Fitra mengatakan akan menyerahkan kasus itu ke pihak berwajib.
“Untuk saat ini masih kami unggah di akun media sosial milik DLH saja. Dengan unggahan itu, nanti harapannya dapat ditindaklanjuti oleh aparat yang berwenang,” terangnya.
Namun, apa sebenarnya sejarah di balik keterkaitan petasan dengan momen Ramadan dan Lebaran? Mengapa setiap tahun, saat Lebaran tiba, kita selalu melihat anak-anak bermain petasan?
Meskipun sudah menjadi tradisi yang berlangsung lama, penggunaan petasan dan kembang api telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia dan menyebar hampir di setiap daerah.
Asal usulnya dapat ditelusuri kembali hingga kedatangan para perantau dari China pada abad ke-15 yang datang untuk berdagang. Mereka membawa bubuk mesiu untuk membuat petasan dan kembang api. Ketika budaya tersebut tiba di Indonesia, ia berakulturasi dengan budaya lokal.
Tradisi menggunakan petasan dan kembang api sebagai sarana pengusir setan sudah lazim dilakukan oleh orang China perantauan.
Namun, di Indonesia, tradisi ini berkembang menjadi simbol kegembiraan, tidak hanya dalam konteks agama Islam, tetapi juga dalam budaya lain seperti hajatan Betawi. Petasan dan kembang api digunakan untuk menyemarakkan acara-acara dan merayakan kebersamaan.
Namun, penggunaan petasan tidak selalu membawa dampak positif. Terkadang, penggunaan yang berlebihan dapat mengganggu kenyamanan masyarakat dan bahkan memicu ketegangan.
Dua contoh yang baru-baru ini menjadi viral adalah insiden ledakan signage Kayutangan Heritage dan kelompok anak-anak yang bermain petasan di Alun-Alun Merdeka.
Tentu untuk menghindari hal serupa, diperlukan kebijaksanaan dan rasa bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat pada momen-momen penting seperti Ramadan dan Lebaran. (art/bob)








