Kota Malang, blok-a.com – Setelah Blok-A.com berjalan mengelilingi Kota Malang dan ngobrol dengan beberapa warga tentang fasilitas pejalan kaki di kota sejuk ini beberapa waktu lalu. Kali ini tim Blok-A.com memantau langsung keadaan fasilitas umum (fasum) yang tersedia di beberapa titik.
Berangkat dari titik Car Free Day yang dilangsungkan pada hari Minggu (23/6/2024), tim Blok-A.com berjalan ke area di sekeliling Jalan Ijen untuk melihat apakah benar ada contoh fasilitas pejalan kaki yang disebut kurang nyaman untuk digunakan.
Dari ujung selatan Jalan ijen menuju ke barat, melalui jalan Kawi, terlihat kondisi trotoar di jalan itu sudah banyak yang tergerus oleh akses masuk ke daerah ruko atau pertokoan dan diganti dengan cor semen terutama di sebelah utara jalan.
Bahkan beberapa titik trotoar yang tersedia masih digunakan sebagai tempat mangkal pedagang kaki lima (PKL) atau tempat parkir. Tidak hanya motor, terlihat bahkan ada mobil yang diparkir di atas trotoar.
Pantauan lain dari Jalan Surabaya, terlihat trotoar di bagian utara jalan masih nyaman untuk digunakan. Namun rasa nyaman ini terhenti di depan kantor Telkom karena trotoarnya habis hingga di sana.
Selebihnya, di Jalan Terusan Surabaya, para pejalan kaki lain yang pulang dari CFD terlihat harus melangkah di atas aspal.
Kondisi jalan yang sempit, ditambah dengan pemanfaatan sisa lahan di pinggir jalan sebagai tempat parkir kendaraan dan stand-stand makanan, membuat para pejalan harus berhati-hati sebelum melangkah agar tidak terlanggar lalu-lalang kendaraan yang melintas kencang.
Kondisi dimana pejalan kaki harus offside ke jalan aspal dan rebutan langkah dengan kendaraan ini ternyata membuat beberapa orang malas berjalan kaki di sepanjang jalan di Kota Malang itu.
Contohnya Gendis, salah satu mahasiswa Universitas Negeri Malang mengatakan bahwa hal ini lah yang membuatnya lebih nyaman untuk menggunakan kendaraan jika ada perlu di Jalan Terusan Surabaya.
“Dulu bapak saya kuliah di UB tapi kost di daerah sini (Jalan Sumbersari). Ceritanya ke mana-mana jalan kaki. Kalau saya sih agak malas ya, soalnya sudah seperti berpetualang kalau jalan lewat Terusan Surabaya. Mending naik motor atau lewat jalan tikus soalnya tidak ada yang war-wer (kendaraan berlalu Lalang),” tuturnya dengan tawa. (art/bob)








