Kota Malang, blok-a.com – Studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Stanford University di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa orang Indonesia rata-rata jalan kaki sebanyak 3.513 langkah setiap hari. Hasil penelitian ini diterbitkan di jurnal sains Nature.
Jumlah ini jauh di bawah rata-rata global yaitu 5.000 langkah per hari. Karena itu masyarakat Indonesia secara ranking dapat disebut sebagai salah satu yang paling malas di dunia dalam hal berjalan kaki.
Kota Malang sendiri adalah kota yang sejuk karena terletak di dataran tinggi. Karenanya, kota ini sedap untuk dinikmati dengan berkeliling berjalan kaki. Namun benarkan Kota Malang ini nikmat untuk dijadikan tempat jalan-jalan?
Kenikmatan berjalan kaki tentu tidak jauh dari kualitas fasilitas pejalan kaki yang ada di Kota Malang. Sambil berjalan-jalan keliling kota, Blok-A.com pun meminta komentar beberapa warga perihal kualitas fasilitas umum (fasum) tersebut.
Satu komentar datang dari Sulthon, warga Tlogomas yang menyebut bahwa Pemerintah Kota Malang masih belum memiliki visi yang jelas terhadap pemenuhan hak pejalan kaki.
“Visinya kurang. Pemerintah tidak menyediakan trotoar yang nyaman di tempat-tempat yang banyak pejalan kaki di sana. Jika visinya bagus, seharusnya membangun di area dengan kebutuhan tinggi, seperti di sekitar kampus dan kos-kosan, contohnya di Dinoyo area kampus Unisma,” tuturnya saat ngobrol dengan Blok-A.com pada hari Sabtu (22/6/2024).
Ia menambahkan, pembangunan fasilitas pejalan umum di Kota Malang masih terpusat di wilayah-wilayah yang kurang menyentuh para pejalan kaki.
“Pemerintah malah membangun di jalan utama seperti Veteran, dimana tidak banyak anak kos. Di MT Haryono, trotoar yang memadai justru dibangun oleh kampus-kampusnya sendiri. Tetapi di luar wilayah itu kan bukan ranahnya mereka,” ujarnya.
Komentar yang hampir serupa didapat Blok-A.com saat berkeliling di wilayah Blimbing. Dani, seorang ayah dua anak, mengatakan bahwa pembangunan fasilitas umum pejalan kaki masih kurang menyentuh sebagian besar pengguna secara umum.
“Kesal sih. Malang masih mendahulukan fasilitas umum yang sifatnya tersier, bukan primer. Contohnya, Kayutangan dimanjakan, tapi tempat lainnya seperti diabaikan,” ujarnya.
Dani mengatakan kurangnya perhatian di beberapa titik fasilitas pejalan kaki di Kota Malang membuatnya memandang jalan kaki bukanlah moda transportasi yang aman bagi warga.
“Intinya, kalau trotoar yang seharusnya menjadi fasilitas umum primer masih dikesampingkan, bagaimana bisa berjalan kaki dengan aman tanpa harus merasa seperti perlu mandi bunga dulu?” ungkapnya.
Kembali ke bahasan awal, kedua warga yang ditemui Blok-a.com tersebut pun sepakat bahwa Kota Malang adalah kota yang enak untuk jalan-jalan. Tapi masih kurang nyaman untuk berjalan sebagai moda transportasi berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
“Sejujurnya enak, cuman Ketika kita ngomong jalan kaki untuk moda transportasi. Sepertinya nggak nyaman,” tutur Sulthon.
Sementara itu, Dani menyatakan hal yang hampir mirip. “Nyaman, soalnya memang hawanya sejuk. Tapi kalau jalan kaki dalam konteks untuk menuju satu tempat ke tempat lainnya seperti masyarakat Jepang, masih jauh sekali,” tuturnya.
Dari hasil ngobrol dengan dua warga Kota Malang tersebut, benarkah suara mereka mewakili mayoritas warga Kota Malang?








