Kota Malang Akhir-akhir ini Kerasa Panas? Ini Alasannya

Supeltas di Jalanan Saat Siang dan Kemarau Panas di Kota Malang (blok-a/Agus Demit)
Supeltas di Jalanan Saat Siang dan Kemarau Panas di Kota Malang (blok-a/Agus Demit)

Kota Malang, blok-a.com – Akhir-akhir ini masyarakat Kota Malang mengeluh dengan suhu panas yang dirasakan.

Ternyata, suhu panas ini dikarenakan Kota Malang masih dalam kalender musim kemarau. Hal itu sebagaimana dalam edaran yang dibagikan di oleh BMKG Stalkim Jawa Timur.

Dalam surat edaran tersebut dijelaskan, penyebab suhu panas yang ada di Kota Malang yakni gerak semu matahari yang berada tepat di garis khatulistiwa atau biasa disebut titik aquinox.

Tidak hanya itu, Efek Urban Heat Island yakni kondisi suhu di daerah yang padat penduduk, efek rumah kaca dan kurangnya vegetasi juga menjadi salah satu penyebab suhu panas di Kota Malang meningkat.

BMKG memprediksi bahwa suhu panas ini akan dirasakan selama 10 hari kedepan. Berdasarkan data dari prakicu stamet Juanda, diprediksi selama 10 hari kedepan Kota Malang berada dalam kisaran 18°-32°.

Dijelaskan, dampak dari suhu panas ini bisa mengakibatkan dehidrasi, heat exhaustion (kelelahan akibat panas), heat stroke yang bisa mengakibatkan tubuh kejang dan gangguan pernapasan atau penurunan kapasitas paru-paru.

Maka dari itu, himbauan kepada masyarakat untuk menghindari paparan langsung dari sinar matahari. Dengan memenuhi kebutuhan air minum dengan cukup untuk menghindari dehidrasi dan tidak beraktivitas pada suhu-suhu panas mulai meningkat.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, Drs Prayitno menjelaskan terkait dengan potensi bencana yang diakibatkan suhu panas ini. Menurutnya, hingga saat ini masih belum ada dampak maupun hal yang merugikan masyarakat Kota Malang.

Namun, pihaknya akan terus memitigasi dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terkait dengan suhu panas ini.

“Menurut catatan BMKG Jawa Timur, sampai sekarang belum menunjukkan tanda-tanda ada potensi suhu panas yang menyebabkan bencana atau dampak yang merugikan bagi masyarakat,” terang Prayitno.