BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas di Malang Raya

Ilustrasi cuaca panas (blok-a.com/ Putu Ayu Pratama S)

Malang, blok-a.com – Cuaca panas terik yang terasa beberapa hari terakhir di wilayah Malang Raya ternyata bukan tanpa sebab. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Karangploso mencatat, peningkatan suhu udara ini dipengaruhi oleh fenomena kulminasi utama, atau posisi matahari yang berada tepat di atas kepala.

Prakirawan BMKG Karangploso, Linda Fitrotul, menjelaskan bahwa fenomena kulminasi utama membuat sinar matahari memancar langsung ke permukaan bumi tanpa ada penghalang awan. Kondisi ini menyebabkan udara terasa lebih panas dan kering dibanding biasanya.

“Karena ada kulminasi, pembentukan awan tidak terjadi. Jadi sinar matahari langsung ke permukaan bumi dan membuat panasnya lebih terik, kelembapan pun lebih kering,” terangnya saat ditemui di Stasiun BMKG Karangploso, Kamis (16/10/2025).

Menurut Linda, suhu udara di wilayah Malang Raya yang biasanya berkisar antara 27 hingga 28 derajat Celcius, kini meningkat menjadi 30 hingga 31 derajat Celcius. Meski begitu, kondisi ini masih tergolong wajar dan belum masuk kategori ekstrem.

“Sebenarnya ini masih dalam batas normal. Kalau dibandingkan daerah lain seperti Lamongan dan Surabaya, di sana bisa mencapai 36 hingga 37 derajat Celcius,” ujarnya.

Selain membuat udara terasa lebih panas, fenomena kulminasi utama juga berdampak pada mundurnya musim hujan di wilayah Malang Raya. Berdasarkan prakiraan awal, hujan seharusnya mulai turun pada akhir September. Namun karena efek kulminasi, pergeseran terjadi hingga pertengahan Oktober.

“Harusnya sudah mulai hujan di akhir September, tapi karena kulminasi, pembentukan awan tertunda dan akhirnya musim hujan ikut mundur,” jelasnya.

Meski begitu, Linda menegaskan fenomena ini hanya bersifat sementara. Berdasarkan pemantauan citra satelit BMKG, tanda-tanda pembentukan awan kini sudah mulai terlihat. Beberapa wilayah di Malang bahkan mulai diguyur hujan ringan dalam beberapa hari terakhir.

“Fenomena kulminasi utama ini sudah hampir berakhir. Dari pantauan kami, pembentukan awan sudah mulai masif dan hujan mulai terjadi di sejumlah wilayah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan terhadap cuaca panas yang terjadi. Meski terasa lebih menyengat, kondisi ini akan segera normal seiring dengan masuknya musim hujan. Namun, masyarakat tetap diimbau untuk menjaga kesehatan dan memperbanyak asupan cairan agar tidak mengalami dehidrasi.

“Cuaca panas seperti ini wajar menjelang musim hujan. Yang penting tetap menjaga kondisi tubuh, jangan terlalu lama beraktivitas di luar ruangan pada siang hari,” pesannya.

Fenomena kulminasi utama sendiri umumnya terjadi dua kali dalam setahun di wilayah Indonesia, yakni saat posisi matahari melintas di atas garis khatulistiwa. Di Malang Raya, puncaknya berlangsung pada pertengahan Oktober dan Maret setiap tahunnya. (bob)