Kolaborasi UNISMA dan UiTM Tekankan Pentingnya Resolusi Konflik Global

Direktur Pascasarjana Universitas Islam Malang Prof M Mas’ud Said (Blok-a.com/zul)
Direktur Pascasarjana Universitas Islam Malang Prof M Mas’ud Said (Blok-a.com/zul)

Kota Malang, blok-a.com – Di tengah meningkatnya ketegangan global, Universitas Islam Malang (UNISMA) bersama Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia menegaskan pentingnya peran akademisi dalam mendorong resolusi konflik dan perdamaian dunia.

Direktur Pascasarjana UNISMA, Prof. M. Mas’ud Said, menyampaikan bahwa konflik global saat ini tidak hanya berdampak pada sektor militer, tetapi juga merambah ke berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari energi, pangan, hingga ekonomi.

“Perang itu tidak hanya di darat, laut, atau udara, tetapi berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, termasuk rumah tangga dan pendidikan,” ujarnya.

Ia menilai, kondisi konflik yang melibatkan berbagai negara besar berpotensi menimbulkan krisis berkepanjangan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara yang berperang, tetapi juga negara lain melalui kenaikan harga, tekanan ekonomi, hingga terganggunya stabilitas sosial.

“Kalau ekonomi seret, maka kehidupan masyarakat tidak akan baik-baik saja. Ini yang harus disadari oleh para pemimpin dunia,” katanya.

Sebagai bentuk kontribusi nyata, Prof. Mas’ud telah menyusun buku berjudul “Konflik, Perdamaian, dan Resolusi Konflik” yang menjadi bagian dari upaya akademisi dalam menawarkan solusi damai atas konflik global. 

Buku tersebut kini menjadi bahan kajian di kalangan cendekiawan dalam merumuskan pendekatan penyelesaian konflik yang lebih konstruktif.

Menurutnya, tidak ada negara yang menginginkan konflik berkepanjangan, namun pendekatan yang digunakan saat ini masih sering bertentangan dengan prinsip perdamaian.

“Semua ingin damai, tetapi caranya sering keliru. Ingin damai tapi masih menggunakan kekerasan, ini yang menjadi persoalan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara, sebagai contoh dalam menjaga stabilitas di tengah dinamika global. Negara-negara ASEAN dinilai masih mampu mempertahankan solidaritas meskipun terdapat potensi konflik di kawasan.

“Kalau negara bertetangga kuat, maka kawasan akan kuat. ASEAN bisa menjadi contoh bagi dunia dalam menjaga perdamaian,” ujarnya.

Meski konflik antarnegara tidak dapat dihindari, Prof. Mas’ud menekankan bahwa resolusi konflik melalui dialog dan kesepakatan harus terus diupayakan untuk mencegah eskalasi yang lebih besar, termasuk potensi perang berskala luas.

“Kalau sampai konflik meluas, apalagi sampai perang besar, semua sektor akan terdampak. Ini yang harus kita hindari bersama,” katanya.

Dalam konteks tersebut, kolaborasi antarperguruan tinggi menjadi salah satu langkah strategis untuk membangun pemahaman bersama lintas negara. 

Melalui riset, pertukaran akademik, hingga pengabdian masyarakat, akademisi diharapkan mampu menanamkan nilai perdamaian dan kemanusiaan.

“Dari kerja sama ini kita membangun kesepahaman. Akademisi, profesor, dan mahasiswa harus ikut menyerukan perdamaian dunia,” pungkasnya.(zul/bob)