Kota Malang, blok-a.com – Kini, membeli minyak goreng bisa seperti membeli BBM di Kota Malang. Warga tak lagi harus membeli dalam kemasan satu liter atau dua liter, melainkan bisa membeli sesuai kebutuhan dan kemampuan, mulai dari Rp2.000, Rp3.000, hingga Rp5.000 saja.
Konsep itu hadir melalui Depo Pomindo yang resmi dibuka di Jalan Bukirsari Raya Nomor 26, Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang sebagai depo minyak goreng curah premium pertama dan satu-satunya di Malang Raya. Depo ini menjadi solusi baru bagi masyarakat kecil hingga pelaku UMKM yang membutuhkan minyak goreng berkualitas dengan harga lebih fleksibel.
Direktur Utama PT Parama Artha Buwana, Yaya Sumantri mengatakan, depo Pomindo di Kota Malang menjadi depo ke-252 secara nasional, sekaligus yang pertama untuk wilayah Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.
“Untuk Kota Malang atau Malang Raya, termasuk Kota Batu dan Kabupaten Malang, ini depo pertama dan satu-satunya di Malang Raya. Secara nasional, ini adalah depo ke-252 di Indonesia,” ujar Yaya.
Ia menjelaskan, tujuan utama Pomindo adalah menghadirkan minyak goreng berkualitas tinggi jenis CP10 Premium dengan harga yang tetap terjangkau oleh masyarakat. Konsumen tidak dipaksa membeli dalam jumlah besar karena pembelian bisa dilakukan sesuai nominal uang yang dimiliki.
“Jadi masyarakat bisa beli suka-suka. Bisa beli Rp2.000, Rp3.000, Rp5.000 dan seterusnya,” katanya.
Menurutnya, minyak yang dijual bukan minyak subsidi sehingga tidak terikat Harga Eceran Tertinggi (HET). Pasokan minyak berasal dari sejumlah produsen besar seperti Sinar Mas, Wilmar, Mahesa, hingga Pelindo.
“Kalau HET itu hanya berlaku untuk minyak subsidi. Kalau ini minyaknya swasta murni yang kita pakai. Ini curah tapi premium,” jelasnya.
Yaya menegaskan, minyak curah yang dijual di Pomindo berbeda dengan minyak curah biasa yang selama ini dikenal masyarakat. Kualitasnya disebut setara dengan minyak kemasan premium seperti Kunci Mas, Sania, hingga Bimoli.
“Jadi bukan minyak yang seperti di tengkulakan, yang keruh, yang lengket, yang kental, bukan. Masyarakat punya hak untuk dapat minyak goreng yang bagus, yang berkualitas tinggi,” tegasnya.
Ia mencontohkan, banyak ibu rumah tangga di daerah pelosok hanya mampu membeli minyak goreng dalam nominal kecil karena harus membagi kebutuhan rumah tangga lainnya seperti beras, lauk, hingga biaya sekolah anak.
“Banyak emak-emak bilang, saya belinya Rp3.000 saja. Karena uangnya harus dibagi untuk jajan anak, beli beras, beli lauk, bayar sekolah. Nah, dengan adanya Pomindo, masyarakat tetap bisa dapat minyak bagus tanpa dipaksa budget besar,” ujarnya.
Untuk kapasitas, satu depo mampu menampung hingga 9 ton minyak goreng, sementara outlet di bawah depo memiliki kapasitas 1.000 liter. Ke depan, Pomindo menargetkan satu daerah pemilihan memiliki satu depo dan satu kelurahan memiliki satu outlet.
“Kalau untuk outlet, satu kelurahan satu outlet. Kemitraannya bisa dengan Koperasi Merah Putih, Bumdes, perorangan, DKM, sekolah, hingga pondok pesantren,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi mengapresiasi hadirnya depo Pomindo karena dinilai mampu membantu masyarakat dan pelaku UMKM yang sangat bergantung pada minyak goreng untuk aktivitas usaha.
“Kita tahu bahwa minyak ini adalah bahan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama UMKM. Dengan berdirinya depo Pomindo ini bisa membantu masyarakat terutama di Kecamatan Lowokwaru,” ujar Eko.
Menurutnya, inovasi pembelian minyak goreng dengan nominal bebas menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi usaha kecil seperti gorengan, lalapan, hingga usaha mikro lainnya yang membutuhkan pasokan minyak setiap hari.
“Ini adalah langkah inovasi sehingga masyarakat bisa membeli dengan nilai berapapun untuk memenuhi kebutuhannya dan usahanya,” katanya.
Ia juga menilai harga minyak goreng di depo tersebut masih cukup terjangkau, yakni sekitar Rp22 ribu per liter, dengan akses yang mudah dijangkau masyarakat.
“Saya kira masih bisa dijangkau, akses cepat, kemudian harga juga terjangkau oleh masyarakat. Ini nanti menjadi hal yang menarik sehingga masyarakat bisa membeli minyak goreng selain di pasar-pasar dan toko-toko yang sudah tersedia,” pungkasnya. (bob)








