Dampak Perang Iran-AS, Biaya Produksi Tempe di Malang Melonjak

Dampak Perang Iran-AS, Biaya Produksi Tempe di Malang Melonjak
Dampak Perang Iran-AS, Biaya Produksi Tempe di Malang Melonjak (blok-a/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.comPerang Iran Vs Amerika Serikat (AS) yang tak kunjung usai berdampak ke perajin tempe di Kota Malang. Sebab, bahan baku tempe, kedelai harganya ikut naik imbas perang.

Salah satu perajin tempe di daerah Sanan, Kota Malang, Mustakim menjelaskan, kedelainya diimpor dari negara lain, yakni AS. Oleh karena itu, harga kedelainya juga ikut naik.

“Biasanya Rp 9,5 ribu per kilogram saat ini Rp 10,5 ribu per kilogram,” kata dia dikonfirmasi di rumah produksi yang bernama Mekar Jaya, Selasa (7/4/2026).

Ia pun menjelaskan kenaikkan harga kedelai ini berlangsung sebelum lebaran kemarin hingga kini.

“Itu naiknya berangsur-angsur mas,” jelasnya.

Selain harga kedelai yang naik, Mustakim mengaku usahanya juga terdampak akibat bahan baku plastik yang naik. Tempe-tempe yang diproduksinya tersebut memang menggunakan plastik untuk pemorsian.

Plastik rol yang biasanya seharga Rp 23 ribu meningkat hampir 100 persen harganya menjadi Rp 51 ribu per kilogram.

“Kresek juga ikut naik. Biasanya per bal itu Rp 1,2 juta kini kreseknya naik Rp 2 juta per bal,” imbuhnya.

Dengan adanya kenaikan di bahan baku kedelai dan plastik itu, Mustakim tidak mengurangi kualitas dan kuantitas tempe yang dijualnya. Ia memilih cara bertahan dengan menaikkan harga jual tempe ke pelanggan.

“Untuk tempe ukuran 200 gram yang biasanya dijual dengan harga Rp 2 tibu per bungkus, kini saya naikkan jadi Rp 2,2 ribu per bungkus. Sedangkan yang ukuran agak besar, dulu harganya Rp 3,5 ribu per bungkus dan kini saya naikkan jadi Rp 5 ribu per bungkus,” tambahnya.

Saat ditanya apakah tidak memilih kedelai lokal, Mustakim mengaku kedelai lokal lebih mahal dan ukurannya lebih kecil-kecil. Meskipun kualitas kedelai lokal itu lebih bagus.

“Jadi memang lebih efisien itu pakai impor karena kedelainnya harganya lebih terjangkau dan besar-besar,” kata dia.

Sementara itu, per harinya kini ia memproduksi sekitar 850 kilogram per harinya. Ini turun dibandingkan sebelumnya yang sekitar Rp 1 ton per harinya.

“Karena susah mas sekarang jualan tempe pas bulan puasa aja itu susah dan sedikit permintaannya,” kata dia. (bob)