Demi Panen Kepompong Ulat Jati, Warga Blitar Rela Berjongkok Berjam-jam di Hutan

Misidi (60), warga Desa Wonotirto Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar mencari entung di Hutan Jati Lodoyo. (blok-a.com/Fajar)
Misidi (60), warga Desa Wonotirto Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar mencari entung di Hutan Jati Lodoyo. (blok-a.com/Fajar)

Blitar, blok-a.com – Memasuki musim penghujan, sejumlah warga di Kabupaten Blitar mulai geriya berburu entung atau kepompong ulat jati di Hutan Jati Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.

Mereka rela berjongkok berjam-jam untuk mengumpulkan kepompong yang sembunyi di balik daun kering pohon jati yang jatuh di tanah.

Bahkan seorang perempuan, warga Desa Kaligrenjeng, Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar, Supiah (42), bersama beberapa tetangganya harus menempuh jarak sejauh 18 kilometer dari rumahnya untuk mencari entung di Hutan Jati Lodoyo di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.

“Kami 25 orang berangkat rombongan naik sepeda motor dari Wonotirto untuk mencari entung di sini. Tadi sampai sini (Hutan Jati Lodoyo) sekitar pukul 08.00 WIB,” kata Supiah kepada blok-a.com, Selasa (16/1/2024).

Supiah mengaku, sudah tiga hari ini bersama tetangganya mencari entung di Hutan Jati Lodoyo. Biasanya, mereka mencari entung mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB.

“Dapatnya tidak tentu, setengah hari kadang dapat tujuh ons sampai satu kilogram,” ujar ibu dua anak ini.

Tiap masuk musim hujan, mereka rutin mencari entung di Hutan Jati Lodoyo mendapatkan tambahan penghasilan.

Supiah mengaku, biasanya saat memasuki musim hujan, sudah ada pemesan kepompong ulat jati. Pemesan mengolah entung jati untuk lauk makan.

“Kalau dijual harga entung jati mencapai Rp 100.000 sampai Rp 125.000 per kilogramnya. Tapi carinya harus telaten, harus jongkok membuka-buka daun jati yang jatuh di tanah,” pungkasnya.

Hal serupa dilakukan Misidi (60), warga Desa Wonotirto Kecamatan Wonotirto. Dia rela meninggalkan sementara pekerjaan sebagai buruh tani untuk ikut mencari entung di Hutan Jati Lodoyo.

Untuk mendapatkan satu kilogram entung, dia melakukan mulai pagi hingga menjelang sore.

“Kalau dijual, harga entung jati lebih Rp 100.000 per kilogramnya. Biasanya, entung jati dimasak oseng atau digoreng untuk lauk makan,” ujar Misidi.

Entung jati ini, biasanya sembunyi di sela-sela lipatan daun jati kering yang jatuh di tanah. Warga harus mengais daun jati lalu membolak-balik untuk mencari entung jati. (jar/lio)