Kabupaten Malang, blok-a.com – Warga Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung kembali menghidupkan suasana pedesaan tempo dulu melalui gelaran Busu Jaman Biyen (BJB) 2026. Kegiatan ini menjadi momentum kebangkitan tradisi setelah sempat vakum selama beberapa tahun.
Ketua Pelaksana BJB 2026, Depi Ari Cahyono, mengatakan kegiatan ini digelar yang ketiga kalinya setelah sempat vakum selama 6 tahun. Meski sempat tercetus untuk diselenggarakan sekitar tahun 2024 dan 2025, berbagai faktor menjadi penyebab tertundanya pelaksanaan kegiatan ini.
“Libur selama kurang lebih lima atau enam tahun karena COVID saat itu. Kemudian teman-teman ngobrol-ngobrol untuk menggelar kembali pelaksanaan setelah Covid mereda,” kata Depi.
Selain pandemi Covid-19, rencana kegiatan juga tertunda akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak serta bertepatan dengan momentum pemilihan desa yang dinilai kurang kondusif untuk penyelenggaraan acara.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, warga dan pemuda akhirnya sepakat menggelar kembali kegiatan tersebut pada 2026 dengan konsep yang lebih matang. Diskusi bersama pemuda lain dan tokoh masyarakat, menjadi titik awal pemantapan konsep acara.
“Lah begitu kita cerita, diskusi, ‘Bismillah tahun ini, kita harus bikin dengan konsep seperti ini,’” ujar Depi.
Berbeda dari pasar atau bazar pada umumnya, BJB 2026 mengusung konsep menghadirkan kehidupan desa di masa lalu, lengkap dengan proses pembuatan kuliner tradisional sebagai bagian dari atraksi.
“Kalau kita bikin pasar kan di mana-mana sudah ada. Kita bikin yang berbeda. Disini juga ada atraksi juga. Misalnya masak, ada prosesnya juga,” jelasnya.
Dalam kegiatan itu, detail suasana tempo dulu memang benar-benar terasa. Saat pengunjung memasuki jalan yang telah ditentukan sebagai lokasi BJB ini, pencahayaan yang minim sangat melekat dengan suasana desa zaman dulu. Pencahayaan hanya berasal dari obor-obor yang terpasang di sudut sudut jalan lokasi festival.
Setelah melewati jalan itu, para pengunjung juga ditawarkan dengan masakan khas zaman dulu seperti nasi jagung, gulali, kacang rebus hingga jenang grendul. Tidak hanya melihat hasil akhir makanan, tetapi juga prosesnya, mulai dari menumbuk bahan, menggiling, hingga menjadi sajian siap konsumsi. Konsep ini sekaligus menjadi upaya memperkenalkan kearifan lokal Desa Busu.
“Jadi kita mencoba memperkenalkan, ‘Oh, inilah di Busu,’ tambahnya.
Di sisi lain, para pemuda setempat juga menampilkan pekerjaan kasar masyarakat zaman dulu yakni memotong kayu dengan alat pemotong kuno. Tak hanya itu, beberapa pemuda juga terlihat menggendong kayu menggunakan keranjang khas masyarakat Busu sekitar tahun 1980-an.
Bahkan, beberapa masyarakat setempat juga mengilustrasikan cara memasak zaman dulu hanya dengan menggunakan kayu bakar.
“Juga ada ibu-ibu yang menggiling jagung dengan alat di zaman dulu. Mereka seperti mengenang masa-masa zaman itu dan mereka sangat antusias ketika melakukannya,” tutur Depi.
Kegiatan ini digelar di satu wilayah RW 03 yang mencakup delapan RT. Lokasi tidak dipusatkan di satu jalur utama, melainkan tersebar di berbagai titik untuk menunjukkan potensi seluruh wilayah.
“Satu RW itu sekitar 8 RT. Kita memang nggak milih poros, biar di pelosok sana ada, di sini juga ada,” ujarnya.
Setiap titik memiliki ciri khas masing-masing, dengan melibatkan warga dari berbagai RT, bahkan dari RW lain yang turut berpartisipasi dengan mencari lokasi sendiri.
Dari sisi partisipasi, antusiasme warga cukup tinggi. Panitia awalnya hanya menyediakan 25 lapak, namun jumlah pendaftar mencapai lebih dari 50.
“Kalau untuk lapak itu sekitar 25. Tapi yang daftar itu 50 lebih,” ungkap Depi.
Kelebihan peserta tersebut akhirnya diakomodasi dengan memanfaatkan teras rumah warga sebagai tempat berjualan tambahan. Menariknya, panitia tidak memungut biaya bagi warga yang ingin berjualan. Hal ini dilakukan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat tanpa membebani pelaku UMKM lokal.
“Kita nggak pungut biaya. Di tahun 2017 dan 2018 itu sudah gratis,” katanya.
Selain itu, panitia juga memberikan ruang bagi pelaku usaha modern dengan penataan lokasi terpisah, sehingga tetap selaras dengan konsep tradisional yang diusung. Tujuan utama kegiatan ini tidak hanya sebatas ekonomi, tetapi juga memperkuat kebersamaan warga.
“Yang penting saya sama teman-teman itu berangkatnya satu, pemberdayaan. Pemberdayaan juga kemanfaatan itu tadi. Yang kedua, yang penting rukun lah Mas, kekompakan dibangun dulu,” tandasnya.
Persiapan kegiatan telah dilakukan sejak awal tahun 2026, dengan konsep yang sebenarnya sudah dirancang sejak tahun sebelumnya. Dalam pelaksanaannya, warga diberikan kebebasan berkreasi tanpa aturan yang kaku.
“Biarkan mereka dengan kreasinya sendiri. Kalau disuruh begini-begini malah kaku,” tutupnya. (yog/bob)








