Bukan dari Hadis, Ini Asal-Usul Ucapan “Minal Aidzin Wal Faidzin” Saat Idul Fitri

Bukan dari Nabi, Ini Sejarah Ucapan “Minal Aidzin Wal Faidzin” Saat Idul Fitri(blok-a.com)
Bukan dari Nabi, Ini Sejarah Ucapan “Minal Aidzin Wal Faidzin” Saat Idul Fitri(blok-a.com)

Malang, blok-a.com – Menjelang perayaan Idul Fitri, ucapan “Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin” kembali ramai digunakan masyarakat Indonesia. Kalimat ini sudah menjadi tradisi tahunan yang melekat kuat dalam budaya Lebaran, meski tak banyak yang mengetahui asal-usul dan makna sebenarnya dari ungkapan tersebut.

Secara historis, istilah “Minal aidzin wal faidzin” disebut dalam sejumlah literatur berasal dari karya penyair Andalusia, Shafiyuddin Al-Hilli. Pada masanya, ungkapan ini digunakan dalam konteks kemenangan, khususnya setelah peperangan. Maknanya merujuk pada harapan agar seseorang termasuk golongan yang kembali dan meraih kemenangan.

Hal ini selaras dengan penggalan doa Arab:

“جعلنا من العائدين والفائزين”

yang berarti “Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (ke fitrah) dan memperoleh kemenangan.”

Dalam perkembangannya, makna “kemenangan” tersebut kemudian dikaitkan dengan keberhasilan umat Islam menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan. 

Dari sinilah, masyarakat Indonesia mengadopsinya sebagai bentuk ucapan selamat Idul Fitri, meski secara historis bukan berasal langsung dari ajaran Nabi Muhammad SAW.

Adapun ucapan yang lebih memiliki dasar dari riwayat para sahabat adalah “Taqabbalallahu minna wa minkum” yang berarti “Semoga Allah menerima (amal) kami dan kalian.” Ucapan ini disebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan menjadi salah satu bentuk tahniah (ucapan selamat) yang dikenal dalam tradisi Islam awal.

Meski demikian, para ulama menjelaskan bahwa penggunaan ucapan seperti “Minal aidzin wal faidzin” tetap diperbolehkan. 

Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa berbagai bentuk ucapan selamat pada hari raya hukumnya boleh, bahkan sebagian ulama menilainya sebagai sesuatu yang dianjurkan (mustahab), selama mengandung doa dan kebaikan. 

Selain itu, tradisi lain yang identik dengan Idul Fitri di Indonesia adalah pemberian Tunjangan Hari Raya (THR). 

Dalam sejumlah catatan sejarah, kebiasaan memberi hadiah saat hari raya disebut mulai populer pada masa Kekhalifahan Turki Utsmani, khususnya di era Sulaiman Al-Qanuni, sebagai bentuk perhatian kepada masyarakat dan aparatur.

Dengan demikian, ucapan “Minal aidzin wal faidzin” dapat dipahami sebagai bagian dari tradisi budaya yang berkembang di tengah masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia. 

Meski bukan berasal langsung dari Nabi, maknanya tetap sejalan dengan semangat Idul Fitri, yakni kembali ke fitrah dan meraih kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan.

Di tengah suasana menyongsong hari raya, berbagai ucapan selamat sejatinya menjadi sarana mempererat silaturahmi dan saling mendoakan, yang menjadi inti dari perayaan Idul Fitri itu sendiri.(zul)