Tetap di Rantau Saat Lebaran, Kisah Zuhra & Lita Rayakan Idulfitri dalam Kesunyian Malang

Ilustrasi mudik.(Dok. Kemenhub)

MalangBlok-a.com – Atmosfer Lebaran yang mulai terasa di sudut-sudut kota Malang memunculkan perasaan unik bagi para perantau. Di saat banyak orang tengah memadati stasiun dan terminal untuk kembali ke kampung halaman, ada sebagian warga pendatang yang memilih atau terpaksa bertahan.

Terpaksa Bertahan Karena Faktor Jarak dan Finansial

Bagi Zuhra (21), mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) asal Bima, Nusa Tenggara Barat, Lebaran tahun ini adalah tentang prioritas. Sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang juga tengah menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL), waktu luang menjadi barang mewah.

“Saat ini aku punya tanggung jawab yang harus diselesaikan. Meskipun ada waktu libur, sebenarnya waktunya sangat sedikit,” ujar Zuhra.

Selain kendala waktu, faktor geografis dan ekonomi menjadi pertimbangan utama. Tiket pesawat menuju NTB yang melonjak tinggi di musim mudik membuatnya harus berpikir realistis. Didukung oleh orang tuanya yang juga tidak memintanya pulang dengan alasan jauh.

Namun, Zuhra menceritakan betapa kontrasnya suasana kampus belakangan ini. Gerbang kampus yang biasanya riuh oleh mahasiswa yang bercengkrama di warung ATM, kini mendadak senyap. Teman-teman muslimnya yang berasal dari Jawa hingga Kalimantan rata-rata telah berangkat pulang.

“Di momen seperti inilah rasa kangen rumah muncu. Saat melihat lingkungan yang biasanya ramai tiba-tiba jadi sunyi,” tuturnya pelan.

Persiapan Lebaran Zuhra pun tergolong sangat sederhana. Baginya, esensi perayaan telah berubah sejak sang ayah berpulang. Tidak ada baju baru atau hidangan mewah. Rencananya setelah Salat Id, ia hanya akan mengandalkan video call untuk bermaaf-maafan dengan keluarga.

“Semangat untuk merayakan secara mewah itu sudah tidak ada sejak tidak ada sosok Bapak,” tambahnya.

Zuhra (kanan) dan Lita (kiri), perantau di Malang yang memilih tidak mudik saat Lebaran (foto: Blok-a.com/Flora Vorentina Lum)
Zuhra (kanan) dan Lita (kiri), perantau di Malang yang memilih tidak mudik saat Lebaran (foto: Blok-a.com/Flora Vorentina Lum)

Alasan Profesional untuk Memilih Tetap Tinggal

Cerita berbeda datang dari Lita (27), seorang Supervisor Accounting di Sans Hotel Malang. Berasal dari Surabaya yang jaraknya terhitung dekat, Lita justru memilih untuk tetap berada di Malang saat puncak Lebaran. Baginya, ini adalah bentuk profesionalitas dan strategi menghindari kepadatan.

“Alasan utama saya tidak mudik saat Lebaran karena saya biasanya baru pulang setelah Lebaran selesai. Saya lebih memilih bekerja dulu daripada terjebak macet saat puncak mudik,” kata Lita.

Meski harus bekerja di hari raya, Lita tidak ingin kehilangan momen hangat Idulfitri. Ia menciptakan suasana Lebaran di rumahnya sendiri di Malang dengan menyetok aneka kue kering.

Setelah melaksanakan Salat Idulfitri yang singkat, ia bahkan kerap mengadakan open house kecil-kecilan untuk teman atau kerabat yang juga tidak pulang kampung.

“Siangnya saya sudah harus kembali bekerja. Hal positif yang saya rasakan adalah saya merasa lebih mandiri dan tahu mana yang harus diprioritaskan,” ungkapnya.

Baginya, merayakan Lebaran di perantauan adalah cara untuk lebih menghargai waktu. Sehingga nantinya benar-benar bisa berkumpul dengan keluarga dalam kondisi yang lebih tenang.

Baik Zuhra maupun Lita, keduanya sama-sama memandang bahwa tidak mudik bukan berarti kehilangan makna Lebaran.

Jarak mengajarkan Zuhra untuk lebih menghargai setiap detik kebersamaan yang pernah ada. Mulai dari momen foto bersama hingga ziarah kubur yang kini hanya bisa dikenang.

Sementara bagi Lita, berada di perantauan saat hari raya adalah ujian kedewasaan dalam mengelola tanggung jawab pekerjaan sekaligus kerinduan. (mg2/ova)

Penulis: Flora Vorentina Lum (Mahasiswa Magang Unitri)