Kisah Muhammad Toha di Malang, 46 Tahun Jualan Mainan Kayu Demi Anak-anak di Pesantren

Potret Pak Muhammad Toha Saat Jualan Mainan di Kota Malang (blok-a.com/zulkaria)
Potret Pak Muhammad Toha Saat Jualan Mainan di Kota Malang (blok-a.com/zulkaria)

Kota Malang, blok-a.com – Di tengah suasana riuhnya jalanan Kota Malang, seorang pria lanjut usia tampak setia menawarkan mainan pesawat kayu buatannya sendiri. Dialah Muhammad Toha (62), pedagang mainan tradisional yang sudah 46 tahun menggantungkan hidup dari kerajinan sederhana tersebut.

Pria asal Desa Argosari, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang ini setiap hari berangkat menjajakan mainan buatannya ke berbagai titik di wilayah Kota Malang. Sebelum menetap berjualan di Kota Malang, Toha pernah mencoba peruntungan di sejumlah kota lain seperti Surabaya, Blitar, hingga Pasuruan.

“Dulu pernah jualan di Surabaya, Blitar, Pasuruan. Tapi sekarang sudah di Malang saja, tidak kemana-mana mas” ujarnya ditemui di Jalan Bandung, Kota Malang.

Setiap hari Toha membawa sekitar 20 mainan pesawat kayu yang dibuatnya sendiri. Ia tidak mengambil barang dari pemasok, melainkan membuatnya sendiri sambil berjualan.

“Ini bikin sendiri, tidak kulakan,” katanya.

Selain pesawat kayu, Toha juga membuat berbagai jenis mainan tradisional lainnya seperti kuda-kudaan kayu beroda, mainan goyang, hingga jungkat-jungkit kecil.
Namun, usaha yang dijalani puluhan tahun itu tidak selalu berjalan mulus. Dalam sehari, mainan yang terjual tidak menentu.

“Kalau ramai bisa laku sampai 10 pesawat. Kadang 4, kadang 2, kadang 1. Hari ini laku 3, Alhamdulillah,” tuturnya.

Harga satu mainan pesawat kayu yang dijualnya Rp50 ribu. Dengan harga tersebut, Toha sebenarnya harus menjual setidaknya empat hingga lima mainan sehari agar bisa membawa pulang keuntungan.

Sebab, sebagian penghasilan harus digunakan untuk ongkos perjalanan pulang-pergi dari tempatnya berjualan menuju rumah di Jabung.

“Kalau cuma laku dua ya habis buat ongkos ojek. Ongkosnya pulang pergi bisa Rp100 ribu,” katanya.

Tak jarang, jika dagangannya sepi, Toha memilih tidak pulang ke rumah. Ia akan tetap menunggu di lokasi berjualan hingga keesokan hari demi berharap ada pembeli.

“Kalau tidak laku ya tidak pulang. Nunggu satu malam lagi,” ujarnya.

Saat menunggu itu, Toha biasanya hanya duduk di tempat mangkalnya. Kadang ia tertidur sejenak di kursi atau sekadar memejamkan mata sambil tetap menjaga dagangannya.

Pria berusia 62 tahun ini mulai berjualan sekitar pukul 12 siang hingga tengah malam setiap harinya. Semua perjuangan itu ia lakukan demi menghidupi keluarganya.

Toha memiliki lima orang anak, dan semuanya saat ini sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren.

“Anaknya lima, yang empat di pesantren, satu masih sekolah SD,” katanya.

Meski penghasilan tidak selalu cukup, ia tetap berusaha menjalani pekerjaannya dengan penuh keikhlasan.

“Namanya rezeki kadang ada, kadang tidak. Kalau tidak ada ya tidak bisa kasih belanja di rumah,” ujarnya.

Memasuki bulan Ramadan, Toha mengaku penjualannya belum mengalami peningkatan signifikan. Hingga memasuki 20 hari pertama puasa, dagangannya masih sepi. Namun biasanya pada malam-malam ganjil menjelang akhir Ramadan, ada saja orang yang memberikan bantuan.

“Kadang ada orang ngasih sembako, kadang ada yang kasih uang. Tapi saya tidak minta-minta. Kalau orang Islam tidak boleh minta-minta. Kalau dikasih ya Alhamdulillah,” katanya.

Di balik kesederhanaannya, Toha memiliki satu harapan sederhana. Ia ingin memiliki becak motor (bentor) agar bisa berjualan tanpa harus mengeluarkan biaya ojek setiap hari.

“Cita-cita saya ingin punya bentor, supaya bisa jualan pakai itu. Jadi tidak habis untuk ongkos, dan kalau jualan di bentor juga tidak dirazia Satpol PP,” ujarnya.

Bagi Toha, selama masih mampu bekerja, ia akan terus menjajakan mainan kayu buatannya. Semua dilakukan demi tujuan membawa pulang rezeki halal untuk keluarga dan anak-anaknya di pesantren.

“Namanya ingin dapat rezeki halal ya harus kerja keras,” tutupnya.(zul/bob)