Kisah Nana Pranata Prawerti, Dedikasikan Diri Jadi Penari Muda di Malang

Nana Pranata Prawerti, penari muda yang sudah punya sanggar tari sendiri. (foto : Dok. pribadi)
Nana Pranata Prawerti, penari muda yang sudah punya sanggar tari sendiri. (foto : Dok. pribadi)

 

Kabupaten Malang, Blok-a.com – Penari muda Nana Pranata Prawerti cukup dikenal di tengah masyarakat karena dedikasinya di dunia seni tradisional di Kabupaten Malang.

Sejak usia SMP, Nana tertarik pada dunia kesenian. Wanita yang pernah menjadi guru ngaji ini dikenal sebagai Guru Tari Tradisional yang berbakat.

Kini, Nana mewujudkan mimpinya dengan mendirikan Sanggar Seni Budaya Jathayu Umeg di tempat kelahirannya, Wajak, Kabupaten Malang.

Penari muda meniti harapan agar warga Malang untuk mengenal dan mencintai seni tari tradisional.

“Dengan mengenalkan dunia seni kepada masyarakat sekitar, terutama anak-anak di daerah sini yang umumnya sudah bekerja dan menikah setelah lulus SMP, Nana berharap dapat memberikan kontribusi sosial dengan memperkenalkan dunia seni agar mereka menyadari pentingnya pendidikan,” ujar Nana, pada (12/11/2023).

Perempuan kelahiran Wajak, Kabupaten Malang pada tanggal 8 Mei 1998 ini telah dikenal sebagai seorang pengajar sejak usia muda. Di usianya yang ke 25 tahun, pengalamannya begitu banyak. Mulai dari menjadi guru ngaji saat masih SMP, kemudian berlanjut menjadi guru Pramuka ketika ia berada di bangku SMA.

Bahkan, Nana terus melanjutkan profesi pengajar saat kuliah. Khususnya dalam mengajar ekstrakurikuler, hingga akhirnya menjadi guru tari tradisional yang diakui saat ini. Banyak sekolah sudah diajarnya. Mulai dari SD hingga SMA. Dengan tekun, Nana mengajarkan bagaimana tari tradisional itu.

Nana meraih Best Performance Beauty Muslimah Indonesia 2021. Hal itu semakin memompa keberhasilan Nana sebagai penari tradisional. Prestasi ini kemudian memberikan banyak permintaan kepada Nana untuk tampil dalam pertunjukan di daerah di luar Malang Raya.

Nana mengaku, jiwa seni sudah melekat dalam dirinya. Sementara, tarian sudah menjadi bagian dari jiwanya. Sehingga, semua pekerjaannya dilakukan dengan penuh semangat dan penghayatan.

“Saya merasa nyaman di dunia tari karena bagi saya, tari adalah jiwa saya,” ujar dia.

Kini, dia berfokus untuk mengembangkan sanggar tarinya. Nana berharap sanggar yang baru saja didirikan ini dapat menarik minat lebih banyak anggota untuk mencintai seni tari, terutama di kalangan masyarakat. Biasanya, banyak penari berhenti setelah menyelesaikan sekolah menengah pertama dan langsung bekerja atau menikah.

“Saya berharap sanggar saya dapat menarik lebih banyak anggota untuk mencintai seni tari, terutama di desa ini yang mayoritas tingkat pendidikannya masih rendah. Saya berharap sanggar ini dapat membawa perubahan yang baik bagi masyarakat,” tutup Nana. (mg2/)