Kota Malang, blok-a.com – Nama kampung di kawasan pusat Kota Malang kerap menyimpan jejak sejarah panjang. Salah satunya Kampung Gandean yang berada di sekitar kawasan Kauman. Ternyata, penamaan wilayah tersebut berkaitan erat dengan keberadaan para pekerja pemerintahan pada masa awal berdirinya Kabupaten Malang.
Pemerhati sejarah dan budaya Kota Malang, Agung H Buana menjelaskan, istilah “Gande” dalam tradisi Jawa merujuk pada abdi dalem atau pegawai yang bekerja di lingkungan pemerintahan.
“Kalau di tradisi Jawa seperti di Solo atau Jogja, Gande itu artinya abdi dalem, pegawai yang bekerja di lingkungan keraton,” ujarnya.
Menurutnya, meski Malang tidak memiliki keraton, istilah tersebut tetap digunakan karena merujuk pada kelompok pekerja yang bertugas di pusat pemerintahan saat itu, yakni di kawasan Pendopo Kabupaten Malang.
Agung menyebut, kawasan permukiman para pegawai tersebut berada di sebelah barat SD Kauman 1 Malang. Mereka merupakan pekerja administrasi pemerintahan serta pegawai yang bertugas di kompleks loji Belanda yang kini menjadi area perkantoran.
“Orang-orang yang tinggal di situ dulu adalah pegawai yang bekerja di Pendopo Kabupaten Malang dan juga di Loji Belanda,” jelasnya.
Area loji Belanda yang dimaksud kini berada di sekitar kompleks Kantor Pos Malang dan KPPN Malang.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penambahan akhiran “-an” pada kata Gande mengikuti pola penamaan dalam bahasa Jawa yang menunjukkan lokasi atau kawasan.
“Gande itu orangnya, kalau ditambah ‘-an’ berarti tempatnya. Jadi Gandean itu kawasan tempat para Gande tinggal,” terangnya.
Agung menuturkan, penyebutan Kampung Gandean diperkirakan sudah ada sejak awal berdirinya pusat pemerintahan Kabupaten Malang pada abad ke-19, jauh sebelum perubahan nama jalan pada era modern.
Saat ini, kawasan tersebut berada di sekitar Jalan KH Wachid Hasyim Malang, yang namanya mulai digunakan sekitar tahun 1970-an saat pemerintah melakukan perubahan nama jalan dari istilah lokal dan Belanda menjadi nama pahlawan nasional.
“Nama Gandean bukan berasal dari Belanda, tetapi dari masyarakat Jawa sendiri yang menamai kawasan itu berdasarkan profesi penduduknya,” pungkasnya.








