Kota Malang, blok-a.com – Tren kopi di Malang diperkirakan kembali bergeser pada 2026. Jika beberapa tahun terakhir kopi susu dan kopi pagi sempat menjadi arus utama, tahun depan arah pergerakan dinilai menguat ke kopi mocktail, sementara dari sisi gaya hidup akan makin dipengaruhi tren olahraga.
Dana Helmi, Pegiat Kopi di Kota Malang mengatakan, pergeseran tren kopi tersebut bukan hal baru. Menurutnya, tren kopi sejak lama bersifat berulang dan bergerak dalam pola yang sama, hanya mengalami pengembangan dalam bentuk serta pendekatan pasar.
“Jadi yang pertama kopi itu trennya selalu sirkular, mengulang, tinggal gimana upgrade-nya,” kata Dana saat ditemui blok-a.com, Minggu (15/2/2026).
Dalam satu siklus, kata dia, dunia kopi selalu bergerak di tiga fase utama yang terus bergantian. Fase pertama adalah era seduh manual atau manual brew seperti tubruk, kopi tiam, hingga V60. Fase kedua adalah kopi campuran atau mocktail. Sementara fase ketiga adalah kopi dengan campuran susu.
Menurutnya, fase kopi susu mulai mengalami tekanan seiring perubahan gaya hidup generasi muda yang kini cenderung mengarah pada olahraga dan pola hidup sehat. Di sisi lain, kopi manual brew juga sudah tidak lagi menjadi primadona, karena konsumen mulai mencari alternatif minuman lain.
“Sekarang kalau kita bilang kopi sama susu trennya orang-orang kan olahraga, pasti minta low-fat. Terus kalau kita bilang manual brew, kopi lagi bukan primadona orang. Sekarang orang bilangnya ngopi tapi pesennya kan ya teh, matcha, apalagi matcha lagi naik-naiknya,” terangnya.
Memasuki 2026, Dana memprediksi arah produk kopi akan lebih condong ke kopi campuran atau mocktail. Kecenderungan ini muncul dari hasil pengamatan terhadap riset industri, supplier bahan, hingga perilaku konsumen dalam beberapa tahun terakhir.
Sejalan dengan itu, pendekatan mixology dalam industri kopi dinilai kian menguat. Produk tidak lagi semata menonjolkan karakter biji kopi, melainkan kombinasi rasa yang lebih kompleks dan variatif, sehingga kopi diposisikan sebagai bagian dari racikan.
“Kemarin itu riset beberapa akademisi, industri, sama supplier bahan, itu semuanya itu mengarah ke mocktail sebenarnya, kopi dengan campuran. Akhirnya dunia mixology ini naik, dan semua kedai kopi sudah mulai gali potensinya. Tidak peduli sama kopinya, pedulinya sama butterscotch-nya, sea salt-nya, atau peduli sama hazelnut-nya, diolah lagi pistachio. Harusnya tren tahun ini sih ngarahnya ke situ,” tegasnya.
Dari sisi gaya hidup, kebiasaan ngopi pagi atau kopag masih bertahan, namun dinilai tidak lagi dalam bentuk yang sama. Tren olahraga yang semakin kuat berpotensi menggeser konsumsi kopi, terutama bagi mereka yang mulai mempertimbangkan kondisi tubuh.
“Lifestyle itu bisa dirubah. Menurutku pribadi orang nggak bakal ngopi pagi lagi habis ini. Karena culture era sekarang yang lagi kebangun itu kan olahraga heavy. Kopi sendiri sebenarnya bertentangan sama itu,” ungkapnya.
Ditambahkannya, kebiasaan ngopi pagi kini mulai bergeser bentuk menjadi aktivitas seperti morning peach atau DJ pagi yang tidak selalu diikuti konsumsi kopi.
“Bicara kopag, sekarang lho anak-anak bikinnya itu morning peach, dj pagi. Bisa dlihat juga, kira-kira konsumen pilih kopi apa enggak, karena pagi-pagi kopi kan agak nggak baik buat perut,” tambahnya.
Kondisi tersebut, dinilainya, membuka ruang bagi produk F&B lain yang dianggap lebih selaras dengan gaya hidup sehat. Minuman berbasis buah atau smoothie memiliki peluang lebih besar di tengah tren olahraga yang kian menguat.
“Akhirnya kemungkinan ya teralihkan itu F&B yang mereka sukai sudah bukan kopi. Tapi mungkin smoothies, healthy, kayak Frutopia. Frutopia kan jual jus-jus an, nah itu bagus banget itu. Mungkin arahnya akan ke situ, tinggal nanti pengembangannya ada nggak jus yang bisa di-combine sama kopi nih,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Dana memandang tren kopi di Malang pada 2026 akan terus bergerak mengikuti pola lama yang berulang. Setelah fase kopi mocktail dan gaya hidup olahraga menguat, bukan tidak mungkin arah konsumsi kembali bergeser ke bentuk lain.
“Nanti trennya ke mocktail, lalu lifestyle-nya ya olahraga itu. Setelah itu manual brew lagi, terus nanti pas manual brew orang-orang udah terlalu melek olahraga akhirnya nyari kopi lain lagi. Dari 2015 muter gitu aja, akhirnya kita sudah hafal dengan pola yang terulang,” pungksnya. (ber/bob)








