Sejarah Topeng Malangan, Ini Kata Generasi Kelima

Tri Handoyo, generasi kelima perajin sekaligus penerus budaya Topeng Malangan (foto: Blok-a.com/Yogga Ardiawan)
Tri Handoyo, generasi kelima perajin sekaligus penerus budaya Topeng Malangan (foto: Blok-a.com/Yogga Ardiawan)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Topeng Malangan tidak lahir semata sebagai seni pertunjukan atau hiburan. Di balik wajah-wajah topeng yang beragam, tersimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan ritual, penghormatan terhadap leluhur, hingga cara masyarakat masa lalu menyampaikan nilai kehidupan.

Hal itu disampaikan Tri Handoyo, salah satu pembuat sekaligus penerus seni Topeng Malangan generasi kelima.

Handoyo menjelaskan, keberadaan Topeng Malangan di Malang telah berlangsung sejak masa kerajaan. Pada awalnya, topeng memiliki fungsi yang jauh lebih sakral dibandingkan sekadar pertunjukan.

“Jadi kalau dulu Topeng Malang ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi sebagai sarana upacara,” ujar Handoyo.

Ia menambahkan, jejak penggunaan topeng berkaitan dengan Kerajaan Kanjuruhan yang diperkirakan berdiri sekitar tahun 760 Masehi. Pada masa itu, topeng disebut pernah digunakan sebagai media ritual Upacara Srada.

Upacara Srada merupakan ritual untuk memperingati 12 tahun meninggalnya seorang raja. Dalam ritual tersebut terdapat bentuk boneka yang dibuat dari bunga dan ditempeli topeng berbahan emas yang disebut Sang Hyang Pusposari Rona.

“Dari bentuk ritual ini, berkembang menjadi tarian yang dibawakan oleh manusia menggunakan media topeng. Hal tersebut pernah dilakukan pada masa Kerajaan Majapahit, eranya Prabu Hayam Wuruk sekitar tahun 1350-an,” tambahnya.

Jejak pertunjukan topeng di Malang juga disebut muncul dalam catatan sejarah yang lebih muda. Handoyo menyebut Gubernur Jenderal Raffles pernah mencatat keberadaan pertunjukan menggunakan topeng ketika berkunjung ke wilayah Malang, khususnya daerah Pakisaji, sekitar tahun 1715.

Kesenian tersebut kemudian semakin mengakar di tengah masyarakat. Bahkan, pada 1890, Bupati Malang keempat disebut mewajibkan para pejabat di lingkungan pemerintahan untuk mampu menari topeng, mulai dari camat hingga kepala dinas.

Pada masa itu, pembelajaran tari topeng dilakukan oleh Kanjeng Suryo yang disebut sebagai keturunan trah Majapahit.

Perkembangan Topeng Malangan juga tidak lepas dari peran sejumlah tokoh yang menyebarkannya ke berbagai wilayah. Salah satunya Mbah Tjondro atau Mbah Reni yang makamnya berada di Polowijen, Kecamatan Blimbing.

Mbah Tjondro disebut menyebarkan kesenian topeng ke wilayah Malang Timur, mulai Jabung, Tumpang, Wajak, Tajinan hingga kawasan lereng Bromo.

Sementara Mbah Gurawan menyebarkan seni topeng ke wilayah Malang Selatan, seperti Pakisaji, Senggreng, Sumberpucung, Ngajum hingga Jambuwer.

Cerita Panji dalam Tari Topeng Malangan

Namun, bagi Handoyo, makna Topeng Malangan tidak berhenti pada sejarah penyebarannya. Setiap karakter dalam cerita Panji memiliki simbol yang berkaitan dengan sosok dan sifat manusia.

“Tarian itu merupakan penggambaran sosok leluhur. Dalam cerita Panji sekarang ada sekitar 76 karakter sebagai perwakilan leluhur zaman dahulu,” katanya.

Ia mengungkapkan, wajah asli para leluhur pada masa itu tidak ditampilkan secara langsung. Sosok tersebut kemudian dikamuflasekan melalui bentuk topeng. Karena itu, bentuk dan karakter wajah pada topeng memiliki simbol tertentu yang menggambarkan sifat maupun perilaku tokoh.

Ia mencontohkan karakter Panji Asmorobangun atau Panji Kameswara sebagai salah satu tokoh dalam cerita Panji.

“Topeng tersebut memiliki simbol-simbol yang menggambarkan sifat dan perbuatan mereka,” imbuhnya.

Dalam perkembangannya, Topeng Malangan menjadi sebuah kesenian pertunjukan yang memadukan sejumlah unsur seni sekaligus. Tidak hanya menghadirkan tari, tetapi juga drama dan musik.

“Seni pertunjukan topeng ini merupakan bentuk kesenian komplit yang menggabungkan seni drama, seni musik, dan seni tari,” tuturnya.

Fungsi pertunjukan topeng juga mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Pada masa kerajaan awal, pertunjukan topeng disebut belum memiliki alur cerita seperti yang dikenal sekarang.

“Pada zaman kerajaan awal, pertunjukan topeng hanya berfungsi sebagai penyambutan tamu-tamu kenegaraan, belum berupa pertunjukan yang bercerita,” jelas Handoyo.

Baru pada era Majapahit, pertunjukan tersebut berkembang menjadi seni bercerita. Kisah yang dibawakan kemudian mengangkat perjalanan para bangsawan dan pemimpin terdahulu.

Bagi masyarakat masa lalu, cerita itu bukan sekadar tontonan. Ada pesan kehidupan yang hendak diwariskan kepada masyarakat. Salah satunya berkaitan dengan cara menghadapi wabah penyakit atau pagebluk.

“Cerita tersebut mengandung makna pembelajaran hidup. Contohnya saat menghadapi wabah penyakit (pagebluk). Melalui seni pertunjukan topeng, diajarkan bagaimana cara menanggulangi wabah tersebut,” kata Handoyo.

Ia juga menjelaskan keterkaitan awal Topeng Malangan dengan ritual Srada. Ritual tersebut memiliki tujuan spiritual untuk memutus rantai karma dan mengantarkan jiwa menuju nirwana.

“Upacara Srada bertujuan untuk memutuskan rantai karma yang berjalan. Seni pertunjukan topeng menjadi salah satu sarana ritual agar karma tersebut berhenti dan jiwa bisa langsung menuju nirwana,” ungkapnya.

Sementara itu, cerita Panji yang menjadi salah satu fondasi penting Topeng Malangan disebut menggambarkan perjalanan sejarah kerajaan di Jawa Timur. Cerita bermula dari Kerajaan Kediri yang kemudian terpecah menjadi Kediri dan Jenggala, sebelum akhirnya kembali bersatu dan berlanjut menuju era Singhasari hingga Majapahit.

“Intinya menceritakan perjalanan pemimpin kita pada zaman dahulu, bagaimana beliau pengembaraan, serta prestasi apa yang telah dicapai untuk disampaikan kepada rakyat,” ujarnya.

Namun, ada batasan dalam penyampaian kisah tersebut. Dalam tradisi masa lalu dikenal konsep Wadi, yakni sesuatu yang bersifat rahasia atau aib yang tidak boleh diungkapkan kepada masyarakat.

Karena itu, kesalahan atau aib seorang pemimpin tidak menjadi bagian dari cerita yang disampaikan kepada rakyat. Sebaliknya, pertunjukan lebih menonjolkan sisi baik dan prestasi tokoh yang bisa dijadikan teladan.

“Kesalahan atau aib seorang pemimpin tidak boleh disampaikan kepada rakyat. Jadi, yang diceritakan dalam pertunjukan hanya kebaikan-kebaikannya saja agar menjadi teladan bagi masyarakat,” pungkas Handoyo. (yog)

Jurnalis yang bertugas di wilayah Malang Raya. Fokus peliputan pada isu sosial, politik, pemerintahan dan peristiwa terkini.