Dari Membuat Topeng hingga Mendidik Generasi Muda, 34 Tahun Perjalanan Tri Handoyo Lestarikan Topeng Malangan

Dari Warisan Keluarga hingga Mendunia, Tri Handoyo Menjaga Nafas Topeng Malangan (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Dari Warisan Keluarga hingga Mendunia, Tri Handoyo Menjaga Nafas Topeng Malangan (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan selera hiburan, Topeng Malangan masih menemukan jalannya untuk bertahan. Bukan sekadar benda seni yang dipajang, topeng bagi Tri Handoyo adalah warisan yang harus terus dihidupkan melalui pertunjukan, pembelajaran, hingga regenerasi.

Perajin sekaligus pelestari Topeng Malangan itu telah menjalani perjalanan tersebut selama kurang lebih 34 tahun. Sejak 1992, Tri mulai membuat topeng sekaligus belajar menari di Dukuh Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Langkah itu berawal dari sang ayah yang semasa hidupnya dikenal sebagai pembuat topeng dan pengajar tari.

“Kalau saya membuat topeng sama belajar menari itu hampir bersamaan, jadi kira-kira tahun ’92. Itu awalnya karena dulu ayah saya itu meninggalnya tahun itu. Karena ayah itu dulu pekerjaannya itu membuat topeng sama mengajar tari. Jadi saya istilahnya melanjutkan beliau,” ujar Tri Handoyo saat ditemui media ini.

Bagi Handoyo, meneruskan warisan tersebut bukan sekadar mempertahankan keterampilan membuat topeng. Ada tongkat estafet kesenian yang harus terus dijaga dari generasi ke generasi.

“Kalau pembuatan topeng ini salah satu kewajiban yang memang harus saya lakukan karena saya dipasrahi untuk tongkat estafet berkelanjutan. Mulai buyut, kakek, ayah dan kemudian berlanjut ke saya,” tuturnya.

Menurut Handoyo, Topeng Malangan sejatinya merupakan bagian dari sebuah kesenian pertunjukan. Karena itu, pelestariannya tidak cukup hanya dengan mempertahankan proses pembuatan topeng.

“Jadi sebenarnya ini adalah sebuah pergulatan wayang topeng. Jadi tidak hanya membuat topeng, tapi kita ada sebuah kesenian yang—apa ya—sebuah pertunjukan yang menggunakan media topeng. Makanya tidak hanya membuat topengnya saja, tapi keseniannya juga yang tetap harus kita jalankan,” jelasnya.

Topeng Malangan sendiri memiliki keterkaitan erat dengan kisah-kisah besar dalam tradisi pewayangan. Handoyo menyebut terdapat empat cerita besar yang dikenal, yakni Ramayana, Mahabharata, Panji, dan Menak. Namun, untuk kesenian yang dikembangkannya, cerita Panji menjadi salah satu pijakan utama.

“Sekarang yang kita angkat cerita Panji-nya, karena cerita Panji mewakili ke bangsawanan pada eranya Kerajaan Jenggala dan Kediri. Jadi wilayahnya di Jawa Timur,” katanya.

Upaya menjaga kesenian itu kemudian dilakukan Handoyo melalui proses pembelajaran yang melibatkan generasi muda. Di tempatnya, terdapat empat program utama, yakni latihan tari, karawitan, pembuatan topeng, serta pertunjukan yang digelar secara rutin setiap bulan.

Cara tersebut rupanya mampu menarik minat anak-anak muda. Saat ini, sekitar 175 anak mengikuti pembelajaran yang tersedia, mulai dari kelas A, B, hingga C.

“Jadi upaya ini ternyata bisa menarik anak-anak muda. Kalau di sini, kalau sekarang muridnya ada sekitar 175 anak. Jadi itu ada kelas A, B, C. Jadi mereka ini antusiasnya itu belajarnya luar biasa,” ungkapnya.

Para peserta tidak hanya berasal dari wilayah sekitar. Mereka datang dari Kedungkandang dan berbagai wilayah di Kota Malang. Bahkan, ada pula peserta dari Dampit yang datang untuk belajar.

Untuk peserta usia dini, Handoyo tidak langsung memberikan materi Tari Topeng. Mereka terlebih dahulu dikenalkan dengan tari kreasi agar memahami dasar-dasar gerakan sebelum masuk ke materi Tari Topeng.

“Kalau yang kelas kecil kan mereka tidak bisa langsung dikasih Tari Topeng. Jadi mereka tetap dikasih tari kreasi dulu supaya mereka belajar gerak, kemudian masuk ke Tari Topeng-nya,” jelasnya.

Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bagaimana sebuah kesenian tradisional dapat beradaptasi tanpa harus kehilangan akar. Handoyo menyampaikan, perubahan zaman justru membuka peluang baru bagi kesenian yang dahulu lebih banyak ditempatkan sebagai hiburan.

“Kalau namanya kesenian itu kan dulu hanya sebuah bentuk kesenangan, ya. Jadi sebuah hiburan. Jadi kalau siangnya bekerja, jadi malam hari itu kita butuh hiburan,” ujarnya.

Namun, kondisi itu perlahan berubah. Kesenian yang dahulu hanya hadir dalam pertunjukan untuk memenuhi kebutuhan hiburan masyarakat, kini juga dapat menjadi sumber penghidupan.

“Sekarang itu bisa dipindahkan menjadi sebuah pekerjaan. Jadi contohnya, misalkan buat topeng, itu sekarang kalau dulu hanya membuat untuk keperluan pertunjukan, tapi sekarang itu bisa dipakai untuk misalkan suvenir dan lain-lain, itu bisa untuk mata pencaharian,” kata Handoyo.

Hal serupa terjadi pada pertunjukan tari. Jika dahulu pertunjukan dapat berlangsung hingga berjam-jam untuk memenuhi hajatan masyarakat, kini bentuk pertunjukan disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

“Kalau dulu itu kita hanya melayani orang-orang yang punya hajat. Nah, itu durasinya panjang, itu sekitar 9 sampai 10 jam. Tapi sekarang kita melayani misalkan kegiatan di hotel, di universitas, dan lain-lain di luar negeri seperti itu yang dipadatkan menjadi sekitar 30 menit,” jelasnya.

Transformasi tersebut membuat tempat Handoyo bukan hanya menjadi ruang berkesenian bagi masyarakat lokal. Hampir setiap hari, pengunjung datang untuk mengenal lebih dekat Topeng Malangan.

Mereka tidak sekadar menyaksikan pertunjukan. Pengunjung juga dapat mengikuti berbagai aktivitas, mulai dari mewarnai topeng, belajar menari, belajar gamelan, hingga mengenal proses pembuatan topeng.

“Jadi hampir setiap hari ada kunjungan. Tidak hanya orang lokal, tapi orang-orang asing juga yang mereka berkunjung datang. Jadi mereka ini kegiatannya biasanya melihat Tari Topeng, kemudian mewarnai topeng, belajar menari, belajar gamelan,” ungkapnya.

Minat tersebut bahkan datang dari luar negeri. Handoyo menyebut pada Oktober mendatang, tiga anak dari Singapura direncanakan belajar langsung kepadanya selama kurang lebih dua bulan. Mereka secara khusus ingin mempelajari proses pembuatan Topeng Malangan.

“Rencananya nanti bulan Oktober itu ada anak Singapura, jadi ada tiga orang anak yang dia akan belajar selama kurang lebih dua bulan ke saya. Jadi mereka ingin belajar bagaimana membuat topeng Malangan,” bebernya.

Sementara untuk kunjungan dalam jumlah besar, rombongan pelajar menjadi salah satu yang paling sering datang. Dalam satu kali kunjungan, jumlahnya bisa mencapai 300 hingga 400 anak. Mereka bahkan banyak yang berasal dari luar Malang, seperti Surabaya, Jakarta, hingga Jawa Tengah.

Adapun wisatawan asing biasanya datang dalam rombongan kecil. Dalam periode Juli hingga Agustus, ia memperkirakan ada sekitar 50 wisatawan asing yang datang. Meski jumlahnya tidak sebanyak rombongan pelajar, ketertarikan mereka terhadap Topeng Malangan cukup besar.

“Mereka juga belajar. Mereka sangat suka belajar tentang topeng Malangan,” pungkas Handoyo.

Baginya, keberlangsungan Topeng Malangan pada akhirnya bukan hanya soal mempertahankan bentuk topeng. Lebih dari itu, ada cerita, gerak tari, musik, pertunjukan, serta generasi yang harus terus dikenalkan agar warisan tersebut tidak berhenti pada satu zaman.

Dari tangan seorang perajin, topeng tidak hanya dibentuk menjadi karya seni. Ia menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kembali sejarah dan kebudayaan Jawa Timur kepada generasi muda, bahkan kepada orang-orang dari berbagai penjuru dunia. (yog/bob)

Jurnalis yang bertugas di wilayah Malang Raya. Fokus peliputan pada isu sosial, politik, pemerintahan dan peristiwa terkini.
Redaktur pelaksana sekaligus Jurnalis blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu sosial, politik, dan peristiwa terkini di Malang Raya.