Kota Malang, blok-a.com – Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tidak terlibat langsung dalam penimpaan mural legendaris “Malang The Glory Land” di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang.
Mural karya almarhum Heri Sucahyo alias Sam Nyek yang dibuat sekitar 2016 itu sebelumnya ditimpa dengan mural bertuliskan “Malang Menyala Bersama” dalam rangka Festival Mbois 11. Penimpaan tersebut kemudian menuai sorotan dan kekecewaan dari masyarakat, pelaku seni, hingga musisi lokal.
Wahyu menyampaikan, Festival Mbois merupakan kegiatan yang digelar secara mandiri oleh komunitas, yakni Malang Creative Fusion (MCF). Pemkot Malang hanya memberikan dukungan secara moral terhadap penyelenggaraan festival tersebut.
“Itu kan komunitas yang menyelenggarakan. Jadi kami dari Pemerintah Kota Malang tidak terlibat langsung terkait dengan ini,” ujar Wahyu, Sabtu (22/8/2026).
Wahyu mengungkapkan, Festival Mbois telah berlangsung sebanyak 11 kali. Seluruh kegiatan tersebut diselenggarakan secara mandiri oleh komunitas dan bukan bagian dari agenda resmi Pemkot Malang.
“Kita hanya menyemangati, ‘oke, melaksanakan Festival Mbois, silakan’. Jadi tidak ada kaitannya langsung,” tuturnya.
Meski tidak terlibat, Wahyu mengaku menyayangkan penimpaan mural “Malang The Glory Land”. Terlebih, karya tersebut telah lama menjadi bagian dari ruang publik dan memiliki nilai historis bagi masyarakat Kota Malang.
Ia menyebut Pemkot Malang tidak mengetahui rencana penimpaan mural tersebut sebelumnya karena tindakan itu dilakukan secara tiba-tiba.
“Mereka kan tiba-tiba melakukan. Kami tidak mengetahui secara langsung. Setelah ini ya kita sayangkan,” sebutnha.
Wahyu juga menyampaikan pihak-pihak yang berkaitan dengan polemik tersebut telah bertemu untuk membahas persoalan mural.
Ia kembali menegaskan Pemkot Malang tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan keputusan panitia Festival Mbois 11 terkait penimpaan mural tersebut.
Selain persoalan mural, Wahyu juga meluruskan kehadiran Menteri dalam rangkaian Festival Mbois 11. Menurutnya, kedatangan Menteri bukan atas undangan Pemkot Malang, melainkan undangan dari Indonesia Creative Cities Network (ICCN).
“Jadi kedatangan Pak Menteri di sini memang undangan dari ICCN, bukan undangan dari Pemerintah Kota Malang. Tapi karena ada Pak Menteri datang, saya harus mendampingi,” jelasnya.
Sementara terkait kabar sejumlah band lokal Kota Malang memilih mundur dari Festival Mbois 11 sebagai bentuk protes terhadap penimpaan mural, Wahyu mengaku belum mengetahuinya.
Ia mengatakan tidak menerima laporan dari panitia terkait adanya peserta yang mengundurkan diri dari festival tersebut.
“Saya tidak tahu. Karena kegiatan ini murni komunitas, dari Malang Creative Fusion,” imbuhnya.
Saat kembali ditanya apakah sebelumnya ada laporan mengenai peserta yang mundur, Wahyu menegaskan tidak ada laporan yang diterimanya.
“Oh, tidak ada. Tidak ada laporan apa-apa, karena ini sudah murni dari mereka,” pungkasnya.
Sebelumnya, mural “Malang The Glory Land” yang dibuat Sam Nyek pada 2016 ditimpa mural “Malang Menyala Bersama”. Penimpaan tersebut kemudian memicu polemik di tengah masyarakat.
Dalam waktu singkat, mural “Malang Menyala Bersama” akhirnya dihapus dan bagian dinding tersebut ditutup menggunakan cat biru. Setelah penghapusan itu, muncul banner yang menyatakan mural “Malang The Glory Land” akan dikembalikan atau ditulis ulang. (yog)








