Menteri Ekraf Dorong Malang Manfaatkan Status Kota Media Art untuk Gerakkan Ekonomi Kreatif

Menteri Ekraf, Teuku Rifky dorong Malang manfaatkan status kota media art untuk gerakkan ekonomi kreatif (foto: blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Menteri Ekraf, Teuku Rifky dorong Malang manfaatkan status kota media art untuk gerakkan ekonomi kreatif (foto: blok-a.com/Yogga Ardiawan)

Kota Malang, blok-a.com – Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya mengapresiasi pelaksanaan Festival Mbois ke-11 “Malang Menyala” di Kota Malang. Apresiasi itu disampaikan saat mengunjungi hari kedua festival yang digelar di Stadion Gajayana pada Sabtu (22/8/2026) malam.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian penting untuk terus mengaktivasi status Kota Malang sebagai Kota Media Art UNESCO. Teuku Riefky menambahkan, predikat yang diperoleh Kota Malang melalui UNESCO Creative Cities Network bukanlah tujuan akhir.

“Creative City Network yang diterima oleh Kota Malang itu adalah start point, bukan titik akhir dari tujuan,” kata Teuku Riefky.

Ia mendorong agar berbagai kegiatan kreatif di Kota Malang terus dikembangkan dan tidak berhenti pada satu agenda. Menurutnya, Kota Malang memiliki modal berupa talenta dan potensi kreativitas yang didukung akademisi, pemerintah daerah, komunitas hingga media.

Ia menerangkan banyaknya kegiatan ekonomi kreatif tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Teuku Riefky menilai dampak ekonomi yang dihasilkan bagi masyarakat juga harus menjadi perhatian.

“Tetapi yang paling penting adalah bagaimana ini juga memberikan dampak: dampak ekonomi, dampak terhadap PDRB daerah, dampak terhadap kesejahteraan para pegiat ekonomi kreatif, dan dampak juga terhadap lapangan pekerjaan,” tambahnya.

Ia juga menyoroti pemanfaatan berbagai ruang sebagai pusat aktivitas kreatif. Menurutnya, keberadaan Malang Creative Center (MCC) dengan berbagai program setiap bulan telah menjadi salah satu contoh pengembangan ruang kreatif.

Kini, Stadion Gajayana juga mulai dimanfaatkan untuk aktivitas ekonomi kreatif. Teuku Riefky menilai penggunaan fasilitas olahraga maupun ruang terbuka hijau sebagai ruang kreatif dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

“Sebetulnya kita sudah jangan terhambat karena ruang kreatif, karena ruang kreatif bisa dengan menggunakan fasilitas gedung olahraga seperti ini, ruang terbuka hijau, itu juga banyak bisa diaktivasi,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah daerah, komunitas, pelaku usaha, akademisi hingga media perlu memberikan dukungan dan membuka ruang bagi para pegiat ekonomi kreatif untuk berkembang.

Teuku Riefky melihat kekuatan budaya lokal dapat menjadi modal penting dalam menciptakan nilai ekonomi baru. Kekayaan budaya dan kearifan lokal, jika dipadukan dengan inovasi, kreativitas serta teknologi, dapat menghasilkan produk bernilai tambah.

“Karena kita percaya potensi akar budaya kita yang kuat di berbagai daerah dengan kearifan lokalnya masing-masing, ketika disentuh dengan inovasi, kreativitas, dan teknologi, itu akan memberikan nilai tambah dan memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat,” bebernya.

Lebih jauh, Teuku Riefky menyebut ekonomi kreatif memiliki peluang besar untuk membantu mengurangi pengangguran, terutama di kalangan generasi muda.

Ia menyampaikan jumlah pekerja ekonomi kreatif saat ini mencapai 27,4 juta orang. Sebanyak 63 persen di antaranya merupakan generasi Z dan milenial, sementara 58 persen merupakan perempuan.

“Artinya, lapangan pekerjaan di sektor ekonomi kreatif ini adalah inklusif, baik untuk generasi muda maupun untuk perempuan,” jelasnya.

Di sisi lain, ia menyebut jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai sekitar 7,5 juta orang. Sebanyak 82 persen di antaranya berasal dari kelompok generasi Z dan milenial. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan besarnya peluang sektor ekonomi kreatif untuk menjadi salah satu sektor yang mampu menyerap tenaga kerja muda.

Untuk mewujudkan potensi tersebut, Teuku Riefky menekankan pentingnya dukungan lintas sektor. Pemerintah pusat dan daerah, komunitas, asosiasi, media, pelaku bisnis, akademisi hingga lembaga keuangan dinilai perlu bersama-sama membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan di daerah.

“Kalau ini sekarang lapangan pekerjaan yang diminati oleh Gen Z dan milenial adalah ke sektor ekraf, pengangguran yang terjadi mayoritas Gen Z dan milenial, sebetulnya sektor ekraf ini dapat menurunkan angka pengangguran terbuka di seluruh daerah,” pungkasnya. (yog)

Jurnalis yang bertugas di wilayah Malang Raya. Fokus peliputan pada isu sosial, politik, pemerintahan dan peristiwa terkini.