3 Dosen FEB Unisma Jadi Dosen Tamu di Thailand, Angkat Isu Cultural Branding

Tiga dosen FEB Unisma saat jadi dosen tamu di Prince of Songkla University, Phuket, Thailand. (dok: Istimewa)
Tiga dosen FEB Unisma saat jadi dosen tamu di Prince of Songkla University, Phuket, Thailand. (dok: Istimewa)

Kota Malang, blok-a.com — Universitas Islam Malang (Unisma) kembali memperluas jejaring akademik internasional. Kali ini, tiga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unisma dipercaya mengisi program International Visiting Lecturer di Prince of Songkla University, Phuket, Thailand, beberapa waktu lalu.

Ketiga dosen tersebut adalah Dwiyani Sudaryanti (Akuntansi), M Ridwan Basalamah (Manajemen), dan Abdullah Syakur Novianto (Perbankan Syariah). Dalam forum yang diikuti mahasiswa serta akademisi lintas negara itu, mereka mengulas tema “Cultural Branding, Leveraging Heritage and Identity for Market Impact”.

Dwiyani menjelaskan bahwa budaya tidak seharusnya dipahami hanya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai fondasi strategis dalam membangun keunggulan bisnis. Ia menilai, cultural branding adalah upaya mengolah nilai-nilai lokal agar mampu menjawab kebutuhan pasar global tanpa kehilangan keasliannya.

“Cultural branding bukan tentang menjual budaya secara dangkal. Ini adalah seni transformasi,” ujarnya, Selasa (30/12/2025).

Gagasan yang disampaikan para dosen Unisma tersebut mendapat apresiasi dari Dekan FEB Unisma, Afifudin. Menurutnya, identitas budaya dapat menjadi pembeda penting di tengah kompetisi pasar yang semakin seragam.

“Ini adalah langkah strategis. Selain membangun jembatan kolaborasi akademik, kami juga memperkenalkan perspektif khas Indonesia di panggung global,” katanya.

Ia menambahkan, kehadiran dosen Unisma di forum internasional itu bukan sekadar menyampaikan teori, tetapi juga membuka ruang dialog antara kearifan lokal dan praktik bisnis modern. Dari proses tersebut, diharapkan lahir pendekatan yang lebih inklusif dan aplikatif.

“Momen di Phuket ini mencerminkan visi Unisma yang progresif. Universitas tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga berperan menghubungkan keunikan lokal dengan wacana global,” ujar Afif.

Ia menegaskan, perpaduan antara ilmu pengetahuan dan nilai budaya berpotensi melahirkan terobosan yang relevan sekaligus inspiratif.

“Ini merupakan wujud inovasi dengan akar, berkarya dengan identitas, dan mengukir dampak secara otentik,” pungkasnya. (bob)