Kabupaten Malang, blok-a.com – Kegiatan sarasehan yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang di Desa Wringinanom mendapat apresiasi dari pelaku wisata di kawasan Poncokusumo. Forum ini dinilai menjadi ruang penting untuk menyuarakan kebutuhan riil di lapangan, khususnya terkait pengembangan seni budaya desa wisata.
Pemangku Adat Muda Desa Gubugklakah, Heri Siswoyo, menyebut sarasehan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali potensi kesenian lokal yang selama ini berjalan namun belum didukung fasilitas memadai.
“Yang sudah kita tambahkan sebetulnya sudah ada, cuma belum maksimal. Harapan saya fasilitas yang ada bisa diperbaiki dan dibangun lebih layak untuk wisatawan, terutama wisatawan luar negeri,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Ia menambahkan, Desa Wisata Gubugklakah memiliki beragam kesenian yang rutin ditampilkan oleh anak-anak, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA. Salah satu yang menjadi andalan adalah Tari Topeng yang dikolaborasikan dengan kesenian lain seperti kuda lumping dan bantengan dalam bentuk sendratari.
“Kalau yang paling banyak kesenian Tari Topeng. Biasanya kita kolaborasikan dengan tari lain, kuda lumping, bantengan dalam satu fragmen cerita,” tambahnya.
Namun demikian, keterbatasan fasilitas masih menjadi kendala utama. Mulai dari peralatan gamelan yang sudah tidak layak pakai, kostum, hingga tempat pertunjukan yang masih sederhana.
“Yang kurang itu peralatan, pakaian, dan tempat. Gamelan kita sudah puluhan tahun, sudah tidak layak. Untuk larasnya juga sudah tidak sesuai,” ungkapnya.
Heri juga menyoroti sistem pembinaan kesenian di desanya yang bersifat swadaya. Sekolah wisata yang ada tidak memungut biaya, sehingga operasional hanya mengandalkan iuran kecil dari peserta.
“Sekolah wisata gratis, tidak besar setiap pertemuan. Itu untuk beli make up dan kebutuhan dasar,” katanya.
Karena itu, ia berharap adanya dukungan lebih dari pemerintah daerah guna menjaga keberlangsungan kesenian tradisional sekaligus meningkatkan daya tarik wisata.
“Kalau dari Pemkab sangat kami butuhkan untuk melestarikan kesenian adat dan budaya. Kebutuhannya seperti gamelan, pakaian, dan fasilitas pendukung lainnya,” tegasnya.
Menurutnya, apabila fasilitas terpenuhi, kualitas pertunjukan akan meningkat dan berdampak langsung pada kenyamanan wisatawan.
“Kalau fasilitas ada, pertunjukan bisa maksimal. Penonton juga nyaman, tidak lagi lesehan seperti sekarang,” pungkasnya. (yog/bob)








