Kota Malang, blok-a.com – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang tengah mematangkan rencana penataan ulang (rerouting) angkutan kota (angkot) untuk menyesuaikan kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang. Sejumlah kawasan permukiman yang selama ini belum terjangkau angkot, seperti Sawojajar bagian dalam hingga Cemorokandang, masuk dalam kajian trayek baru.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, mengatakan kajian terkait perubahan dan penyesuaian trayek telah disiapkan oleh pihaknya. Pembahasan tersebut juga sudah dilakukan bersama para pengusaha dan pengemudi angkutan kota.
“Kami sudah diskusi. Yang jelas kami sudah siapkan kajiannya. Sudah ada rute-rutenya dan sudah kita diskusi dengan teman-teman angkutan kota. Tinggal disahkan, ya nunggu lebih dimatangkan lagi nanti,” ujar Widjaja saat dikonfirmasi, Minggu (31/5/2026).
Pria yang akrab disapa Jaya ini menambahkan, penataan trayek dilakukan karena jaringan angkot yang saat ini beroperasi masih mengacu pada pola layanan yang disusun sejak 1989. Kondisi Kota Malang yang terus berkembang membuat sejumlah kawasan permukiman baru membutuhkan akses transportasi publik yang lebih memadai.
Dishub pun mulai mengarahkan konsep trayek baru agar tidak hanya melayani jalan-jalan utama, tetapi juga masuk ke lingkungan pemukiman yang memiliki potensi penumpang cukup besar. Ia menjelaskan wilayah seperti Sawojajar, Kedungkandang hingga Cemorokandang diperkirakan masuk dalam pemukiman dengan potensi penumpang yang tinggi.
“Kita coba trayek yang bisa menjangkau di dalam jalan lingkungan. Misalnya di daerah Sawojajar. Selama ini di Sawojajar itu kan Danau Toba saja. Yang dalam seperti Danau Tempe, Danau Sentani, itu belum ada. Bisa jadi tempat yang lainnya juga. Misalnya daerah Cemorokandang yang selama ini belum ada,” tambahnya.
Widjaja mengungkapkan, penataan trayek bukan berarti menghapus seluruh jalur lama. Dishub lebih memilih melakukan optimalisasi berdasarkan kebutuhan masyarakat dan kondisi lapangan saat ini.
“Bukan dihapus, tetapi kita optimalkan. Misalnya ada yang memang dirasa tidak perlu, kita sesuaikan lagi. Jadi sekali lagi, trayek yang ada ini kan dibuat tahun 1989,” ungkapnya.
Selain mempersiapkan trayek baru, Dishub juga melakukan pembenahan sarana pendukung transportasi publik, salah satunya halte. Saat ini terdapat sekitar 20 halte yang menjadi tanggung jawab Dishub dan sebagian juga dimanfaatkan oleh layanan Trans Jatim.
Pembersihan halte dilakukan secara berkala sebagai upaya meningkatkan kenyamanan pengguna angkutan umum sekaligus mendukung rencana penataan trayek ke depan.
“Transportasi ini kan urusan perilaku. Perilaku ini harus terus-menerus diupayakan pendekatannya kepada masyarakat. Salah satunya melalui halte agar pemanfaatannya lebih optimal, termasuk dari rekan-rekan angkutan yang bisa memanfaatkan halte secara lebih masif,” tuturnya.
Ia menyampaikan, ke depan pemanfaatan halte juga berpotensi melibatkan pihak swasta melalui program promosi maupun tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Mungkin ke depan skemanya kita coba melibatkan pihak lain, termasuk swasta, untuk pemanfaatan halte. Apakah nanti untuk promosi atau CSR, bisa jadi dalam rangka optimalisasi halte,” ujarnya.
Jaya menyebut pembersihan halte yang dilakukan saat ini juga menjadi bagian dari upaya revitalisasi transportasi umum di Kota Malang. Menurutnya, keberadaan halte yang bersih dan nyaman akan mendukung rencana penataan trayek yang sedang disusun.
“Kita coba terus-menerus untuk lakukan merevitalisasi, agar pemanfaatannya lebih optimal,” pungkasnya. (bob)








