DPRD Kota Malang Wanti-wanti Lonjakan Harga Pangan saat MBG Aktif Lagi

DPRD Kota Malang Wanti-wanti Lonjakan Harga Pangan saat MBG Aktif Lagi
DPRD Kota Malang Wanti-wanti Lonjakan Harga Pangan saat MBG Aktif Lagi (blok-a/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – Tren penurunan harga sejumlah bahan pangan di Pasar Besar Kota Malang selama program Makan Bergizi Gratis (MBG) libur mendapat perhatian DPRD Kota Malang. Dewan meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menyiapkan langkah mitigasi agar harga kebutuhan pokok tetap stabil ketika program MBG kembali beroperasi usai libur sekolah.

Ketua Komisi B DPRD Kota Malang, Bayu Rekso Aji, menilai turunnya harga sejumlah komoditas pangan merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar. Menurutnya, berkurangnya permintaan selama operasional MBG dihentikan sementara membuat harga sejumlah bahan pangan ikut terkoreksi.

“Kalau menurut saya ini hukum pasar. Saat permintaan turun, otomatis harga juga turun. Liburnya program MBG ikut memengaruhi karena kebutuhan terhadap sejumlah bahan pangan juga ikut berkurang,” ujarnya, Kamis (2/7/2026).

Bayu memperkirakan kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Ketika tahun ajaran baru dimulai dan program MBG kembali berjalan, permintaan terhadap berbagai bahan pangan diprediksi meningkat sehingga harga sejumlah komoditas berpotensi kembali naik.

Karena itu, ia meminta Pemkot Malang melakukan mitigasi agar kenaikan harga tetap terkendali dan tidak membebani masyarakat.

“Kalau nanti setelah sekolah masuk dan MBG berjalan lagi lalu terjadi kenaikan harga yang terlalu tinggi, tentu akan memberatkan pengeluaran masyarakat,” katanya.

Menurut Bayu, pemerintah daerah tidak cukup hanya memantau perkembangan harga, tetapi juga perlu memetakan komoditas yang paling terdampak oleh perubahan permintaan akibat program MBG. Data tersebut dinilai penting sebagai dasar penyusunan langkah antisipasi agar gejolak harga tidak terlalu tajam ketika permintaan kembali meningkat.

Komisi B DPRD Kota Malang juga mendorong Pemkot memperkuat sisi pasokan melalui kelancaran produksi dan distribusi bahan pangan. Dengan pasokan yang memadai, kenaikan permintaan saat MBG kembali berjalan diharapkan tidak langsung memicu lonjakan harga.

“Pemkot harus mendata produk-produk yang penurunannya berkaitan dengan MBG. Setelah program berjalan lagi, harus ada mitigasi, mulai dari penguatan suplai, produksi, hingga distribusinya supaya harga tetap stabil,” tandasnya.

Sebagai informasi, selama program MBG dihentikan sementara pada masa libur sekolah, sejumlah harga bahan pangan di Pasar Besar Kota Malang mengalami penurunan. Harga ayam potong yang sebelumnya sempat mencapai Rp37 ribu per kilogram turun menjadi sekitar Rp30 ribu per kilogram.

Penurunan juga terjadi pada telur ayam yang kini dijual sekitar Rp22 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp25 ribu hingga Rp26 ribu per kilogram. Sementara harga telur puyuh turun cukup tajam, dari yang sempat menyentuh Rp42 ribu per kilogram saat MBG berjalan menjadi sekitar Rp28 ribu per kilogram.

Pedagang ayam Pasar Besar Malang, Laily, mengaku harga yang lebih murah justru membuat jumlah pembeli meningkat sekitar 20 hingga 25 persen. Namun, ia memperkirakan harga akan kembali naik ketika program MBG kembali beroperasi. Laily juga berharap pemerintah melibatkan pedagang pasar sebagai pemasok bahan baku MBG, bukan hanya mengambil pasokan langsung dari pabrik.

Sementara itu, pedagang sembako Afi Riskia menilai harga bahan pangan yang lebih murah menguntungkan masyarakat karena daya beli meningkat. Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangan dengan harga lebih terjangkau selama masa libur program MBG. (bob)

Exit mobile version