Pagelaran Wayang Kulit Sebagai Puncak Acara Bersih Desa Dan Ambal Warsa Ke 314 Desa Purworejo

FOTO : Kepala Desa Purworejo Kalinggo Purnomo menyerahkan Gunungan kepada Ki Cahyo Kuntadi, sebagai simbul dimulainya pagelaran wayang kulit. (Foto : blok-a.com/Fajar)
FOTO : Kepala Desa Purworejo Kalinggo Purnomo menyerahkan Gunungan kepada Ki Cahyo Kuntadi, sebagai simbul dimulainya pagelaran wayang kulit. (Foto : blok-a.com/Fajar)

Blitar, blok-a.com – Pemerintah Desa Purworejo Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitartelah menggelar berbagai rangkaian kegiatan Bersih Desa 2024 dan Ambal Warsa Desa Purworejo ke 314. Kegiatan tersebut dilaksanakan mulai 21 Mei 2024 hingga 24 Mei 2024.

Kepala Desa Purworejo, Kalinggo Purnomo mengatakan, rangkaian kegiatan Bersih Desa 2024 dan ambal warsa Desa Purworejo ke 314 tersebut, diawali dengan ziarah ke makam leluhur Kepala Desa yang telah berpulang ke Rahmatullah.

“Ziarah makam leluhur ini, untuk mengenang jasa-jasanya dalam mengemban amanah masyarakat Desa Purworejo sejak tahun 1710,” kata Kalinggo Purnomo.

Kemudian pada 22 Mei 2024, dilanjutkan acara wilujengan di Petilasan Tri Tingal, sebagai bentuk wujud syukur dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Dengan adanya kegiatan bersih desa ini diharapkan semua warga Desa Purworejo selalu dalam keadaan sehat, guyup rukun, ayem tentrem. Dan juga sebagai pemangku kebijakan mulai kepala desa, perangkat desa, lembaga-lembaga desa yang ada di Desa Purworejo selalu diberi amanah dalam mengemban mandat dari masyarakat dengan sebaik-baiknya, agar tercipta suatu pemerintahan yang harmonis antara pemerintah dengan masyarakat,” jelasnya.

Selanjutnya pada 23 Mei 2024, secara serentak dilaksanakan wilujengan di berbagai punden yang termasuk babad di Desa Purworejo. Diantarnya, wilujengan di makam mbah Mustinah Purworejo, di makam Serut Kuntulan Karangjati. Kemudian genduri dan tahlil di masing-masing dusun yang ada di Desa Purworejo, dan di Balai Desa Purworejo.

“Tahlil dan genduri bersama sesuai dengan adat istiadat yang berlaku di wilayah masih-masing di Desa Purworejo, untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan murah rejeki, kesehatan, dan juga diberikan panjang umur, serta guyup rukun seluruh warga Desa Purworejo,” ujarnya.

Sedangkan puncak acara kegiatan Bersih Desa 2024 dan ambal warsa Desa Purworejo ke 314 ini, digelar pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Cahyo Kuntadi, S.Sn, M.Sn, dosen ISI Surakarta, Jumat (24/05/2024).

Kepala Desa Kalinggo Purnomo menjelaskan, ada tiga muatan makna atau filosofi dan tujuan bersih desa. Muatan atau tujuan yang pertama adalah nguri-uri adat budaya, kemudian tujuan yang kedua adalah untuk mengenang jasa para leluhur yang telah berjuang babat Desa Purworejo yang semula berupa hutan menjadi lahan pertanian, dan pemukiman.

“Tanpa ada perjuangan para leluhur ini, niscaya bisa hidup seperti saat ini. Ibarat dalam bahasa Jawa sebagai generasi saat ini adalah ‘Tinggal Nglenggahi Kloso Gumelar’. Jadi kita tidak perlu babat alas, tapi tinggal melanjutkan dan memperbaiki apa yang menjadi peninggalan para leluhur,” jelasnya.

Adapun Muatan atau tujuan ketiga adalah berdoa bersama, semoga selalu diberikan keselamatan dalam hidap di Desa Purworejo untuk menciptakan masyarakat yang guyup rukun, adil makmur.

Menurut Kalinggo Purnomo, makna tersendiri dari Bersih Desa tersebut adalah resik desa, yaitu bersih dari jasmani , bersih desanya, juga bersih masyarakatnya. Resiko desane (bersih desanya), resiko sing ngengoni (bersih yang menempati).

“Desanya bersih dari sisi fisik, dan masyarakatnya juga bersih dari sisi hatinya, dijauhkan dari iri dengki. Intinya poin yang paling penting kita ini semua berdoa. Bersih desa ini selain bersyukur kepada Tuhan telah memberikan anugerah, juga berdoa agar kita selalu dalam keselamatan dan perlindungan Allah SWT,” tandasnya.

Orang nomor satu di Desa Purworejo ini menambahkan, menurut sejarah Desa Purworejo, disebutkan bahwa ketika Ki Karto atau Mbah Pret, saat babad Desa Purworejo sekitar tahun 1710 menemukan sejenis makam atau pesarean dengan 3 nisan. Pada batu nisan tersebut, terdapat relief Surya Majapahit. Selain itu, di Petilasan Tri Tingal juga terdapat Pohon Kemuning atau Pohon Jenar dan Sela Gilang.

“Setelah dilakukan penelusuran dan informasi dari berbagai sumber sejarah, maka petilasan Tri Tingal merupakan petilasan para leluhur agung yaitu, Ki Ageng Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging, Syekh Abdul Jalil dan Raden Sahid,” pungkasnya. (jar)