Tiap Tahun Selama September hingga Januari, Jukir Indomaret Dekat UB Banjir Rezeki

Parkiran motor di kawasan Indomaret Point MT Haryono, Kota Malang. (blok-a.com/Nashrul)
ilustrasi parkir (blok-a.com/Nashrul)

Kota Malang, blok-a.com – Selama 5-6 bulan setiap tahunnya, para juru parkir (jukir) Indomaret Point MT Haryono kebanjiran rezeki. Tidak tanggung-tanggung, pendapatan rata-rata mereka bisa mencapai Rp400 ribu per hari.

Angka tersebut cukup menggiurkan, mengingat tidak semua pemilik franchise Indomaret rela memberikan lahannya buat para petugas parkir. Apalagi, pendapatan rata-rata juru parkir minimarket juga amat jauh dari angka tersebut.

Bisa dibilang banjir rezeki yang dialami para jukir ini berasal dari kantong mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Bagaimana tidak, pihak manajemen UB melarang setiap mahasiswa baru (maba) untuk membawa kendaraan bermotor dan parkir di area kampus. Aturan diterapkan sejak masa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Brawijaya hingga satu semester lamanya.

Alhasil, maba terpaksa memarkirkan kendaraannya di lokasi yang dinilai paling dekat dengan lokasi perkuliahan mereka. Di antara lokasi parkir populer maba UB yang cukup menonjol, adalah sejumlah titik di kawasan Jalan Watugong, termasuk lahan parkir Indomaret Point MT Haryono.

Banjir Rezeki di Parkiran Indomaret

Hadirnya mahasiswa baru Universitas Brawijaya (UB) Malang, bagi para jukir menjadi ladang meraup untung berlipat. Hal itu seperti disampaikan RK, salah seorang petugas parkir Indomaret Point MT Haryono.

“Menurut saya ini rezeki ya, rezeki nomplok kalau mahasiswa parkir di sini. Soalnya saya sudah jaga di sini mulai tahun 2010. Terus mahasiswa parkir di sini itu sekitar 2016 sampai sekarang,” ujar RK yang telah berprofesi sebagai penjaga parkir sejak 2010.

Dari hasil menjaga parkir selama masa PKKMB mahasiswa Universitas Brawijaya, RK mengaku bisa meraup untung hingga Rp 400.000,- setiap harinya.

“Biasanya kalau ramai 400 ribu rupiah, tapi kalau sepi ya 250 ribu. Itupun dibagi tiga sama kawan-kawan. Tapi yang pasti per hari bisa 60 ribu lah kira-kira,” jelas RK.

Meski angka tersebut dinilainya cukup, RK mengaku mendapatkan penghasilan jauh lebih banyak pada tahun 2016.

“Lebih enak 2016. Kan, waktu itu banyak mahasiswa masuk pagi, pulang, siangnya masuk lagi, terus pulang, sore kadang juga masuk lagi, jadi bayarnya tiga kali sehari,” ingatnya.

Para jukir depan minimarket ini menerapkan tarif berbeda untuk pengunjung. Jika pengunjung minimarket cukup membayar dengan harga normal, yakni Rp2.000,-, tarif tersebut tidak berlaku untuk mahasiswa.

“Pengunjung biasa gini Rp 2 ribu. Kan, cuma beberapa menit. Kalau mahasiswa kan kadang seharian sampai malam. Jadi, ya Rp 5 ribu. Tapi per penjaga parkir beda-beda, malah ada yang sampai malam disuruh bayar lagi,” ujar RK menjelaskan.

Banjir Musiman buat Warga

Keberuntungan semusim tak cuma milik RK dan rekan-rekan di Indomaret. Sebagian warga kawasan Jl. Watugong, Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, juga mendapatkan tambahan pemasukan dari jasa penitipan kendaraan mahasiswa baru UB.

Lahan-lahan parkir dijaga oleh petugas yang mengaku sudah berkoordinasi dengan RT setempat dan warga sekitar.

“Ini merupakan hasil dari rapat RT dengan warga, memang kalau dari kita sendiri tanpa ada kesepakatan kita tidak berani” ucap Pandu, salah satu petugas parkir di RT 08/RW 02 kepada Blok-a.com.

Tak jauh berbeda dengan RK, tarif parkir di lahan yang dijaga Pandu juga bervariasi. Berkisar mulai dari Rp3.000 – Rp5.000,-, tergantung durasi parkir dan lokasi parkir.

Meski tarifnya tak jauh beda, penghasilan lahan parkir di dalam kampung ini bisa mencapai dua kali lipat dari perolehan RK di Indomaret, yakni Rp800.000,- per hari.

Dari pendapatan tersebut, sebesar Rp 25.000 disisihkan untuk mengisi kas RT setempat. Sedangkan sisanya dibagi kepada delapan orang petugas parkir yang mendapat giliran jaga.

Uniknya, penjaga parkir di sini dikhususkan hanya untuk warga yang berdomisili di dekat lahan tersebut. Sehingga manfaat dari pendapatan parkir juga akan dirasakan oleh warga setempat.

Bahkan ada pula warga di kawasan Jalan Watugong yang memanfaatkan momen musiman ini dengan membuka lahan parkir di halaman rumahnya. Karena lahan milik sendiri, mereka pun tak perlu meminta izin kepada RT/RW.

“Ini kan sebenarnya kos-kosan, tapi saya jadikan lahan parkir untuk mahasiswa biar nambah-nambah pendapatan walau sedikit” ujar Pak Jan, pemilik lahan parkir.(int/gni)