Kota Malang, blok-a.com – Pada Selasa (20/2/2024) pagi, Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat melayat ke kediaman salah satu anggota satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang meninggal dunia, Marjani.
Marjani meninggal pada hari Senin (19/2/2024) kemarin setelah dengan heroik mengabdikan dirinya menjaga TPS 23 Kelurahan Arjosari selama 48 jam demi kelancaran Pemilu 2024.
Dugaannya Linmas asal Kelurahan Arjosari Kecamatan Blimbing Kota Malang itu meninggal dunia disebabkan oleh sakit asam lambung yang dideritanya kambuh akibat kecapekan.
Seusai melayat, Wahyu menyatakan bahwa keluarga Marjani akan menerima sejumlah santunan, salah satunya dari BPJS Ketenagakerjaan. “Santunan sudah ada, dari BPJS Ketenagakerjaan sekitar Rp 42 juta rupiah,” terangnya.
Wahyu juga mengungkapkan bahwa selama ini pihak Pemerintah Kota Malang telah membayarkan iuran BPJS Ketenagakerjaan almarhum.
Pembayaran iuran rutin tersebut dianggarkan dalam APBD Kota Malang sebagai tanggung jawab perlindungan kepada kelompok masyarakat yang berperan besar dalam kehidupan sehari-hari, seperti RT/RW, satlinmas, marbot, penjaga makam, guru ngaji dan guru sekolah minggu.
“Iuran BPJS di cover oleh kami sejauh ini,” terang Wahyu.
Oleh karena itu, nantinya keluarga hanya perlu menunggu pencairannya saja. Terkait beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk pencairan santunan tersebut, Wahyu juga telah menginstruksikan pejabat kelurahan setempat untuk membantu prosesnya.
“Ada persyaratan, pak lurah saya minta untuk mencukupi agar nanti santunan bisa diterima,” ujarnya.
Selain santunan dari BPJS Ketenagakerjaan, Pemkot Malang melalui Baznas Kota Malang juga memberikan santunan kepada keluarga almarhum.
Santunan ini adalah bentuk apresiasi atas kinerja luar biasa Alm. Marjani dalam mengawal proses pesta demokrasi di Kota Malang selama dua hari penuh.
“Kami menanyakan, ternyata memang tugas almarhum selama ini luar biasa,” tutur Wahyu.
Sebelumnya, Marjani dikabarkan meninggal di depan teras rumahnya saat akan berangkat bekerja sebagai satuan pengamanan (Satpam). Epit Setya Rudiyono, anak almarhum, mengatakan bahwa ayahnya mendadak jatuh di depan teras rumah dalam kondisi jongkok dekat sepeda motornya. (mg1/bob)








