Optimistis Tingkatkan Kinerja, DLH Kabupaten Malang Perkuat Kolaborasi Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah di TPA Paras, Poncokusumo (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Pengelolaan sampah di TPA Paras, Poncokusumo (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang terus menunjukkan optimisme dalam meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan, khususnya sektor persampahan. Sejumlah terobosan telah dilakukan, mulai dari pengembangan TPA edukatif hingga pemanfaatan teknologi pengolahan sampah berbasis ekonomi sirkular.

Plt Kepala DLH Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman menyebut, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wisata Edukasi Talangagung selama ini telah menjadi rujukan banyak daerah dalam mempelajari sistem pengelolaan sampah terpadu. Tidak berhenti di situ, pengembangan juga dilakukan di TPA Paras, Kecamatan Poncokusumo.

“Kami sangat optimis. DLH Kabupaten Malang senantiasa berkomitmen untuk meningkatkan kinerjanya. Selama ini TPA Wisata Edukasi Talangagung merupakan rujukan banyak pihak untuk belajar terkait penanganan sampah,” ujar Avi, sapaan akrabnya, Jumat (2/1/2026).

Di TPA Paras, lanjut Avi, DLH telah membangun berbagai fasilitas pengelolaan sampah, termasuk mesin Refuse Derived Fuel (RDF). Produk RDF tersebut kini telah dipasarkan ke PT Semen Indonesia Group melalui Solusi Bangun Indonesia, sebagai bentuk pemanfaatan sampah menjadi energi alternatif.

“Saat ini di TPA Paras juga telah banyak dibangun fasilitas pengelolaan sampah termasuk mesin RDF yang produknya dijual ke PT Semen Indonesia Group,” lanjutnya.

Namun demikian, DLH mengakui bahwa berbagai upaya tersebut membutuhkan dukungan anggaran yang tidak kecil. Oleh karena itu, menurut Avi, kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci keberlanjutan program.

“Upaya-upaya tersebut tentunya memerlukan dana yang tidak sedikit sehingga diperlukan kolaborasi dengan banyak pihak, salah satunya melalui Program Bersih Indonesia,” bebernya.

Avi menambahkan, DLH Kabupaten Malang juga menekankan pentingnya menjadikan penghargaan lingkungan sebagai instrumen perubahan perilaku, bukan sekadar capaian seremonial.

“Komitmen kami agar berdampak jangka panjang yakni menjadikan penghargaan sebagai instrumen perubahan perilaku, mendorong keberlanjutan program setelah penilaian selesai, dan mengintegrasikan capaian lingkungan ke dalam perencanaan pembangunan daerah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Avi menjelaskan DLH menyatakan sangat terbuka terhadap kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari komunitas, akademisi, dunia usaha, hingga media. Ia menyebut pengelolaan lingkungan hidup harus memerlukan kerja sama dengan berbagai lintas sektor .

“Kolaborasi diarahkan pada inovasi pengelolaan lingkungan dari komunitas dan masyarakat, riset terapan bersama BRIN terkait penanaman pohon di lahan bekas tambang, penguatan pembiayaan melalui CSR sektor usaha, hingga penyediaan bibit tanaman untuk penghijauan TPA,” pungkasnya. (yog/bob)