Tak Tersentuh 40 Tahun, Revitalisasi Pasar Tawangmangu Andalkan APBN

Tak Tersentuh 40 Tahun, Revitalisasi Pasar Tawangmangu Andalkan APBN
Tak Tersentuh 40 Tahun, Revitalisasi Pasar Tawangmangu Andalkan APBN

Kota Malang, blok-a.com – Revitalisasi Pasar Tawangmangu dipastikan tidak mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pemerintah Kota Malang bersama DPRD Kota Malang memilih jalur pendanaan pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk membenahi pasar yang dinilai sudah puluhan tahun tak tersentuh pembangunan.

Ketua Komisi B DPRD Kota Malang, Bayu Rekso Aji, menyebut Pasar Tawangmangu menjadi satu-satunya pasar di Kota Malang yang belum pernah direvitalisasi sejak hampir 40 tahun terakhir.

“Pasar Tawangmangu ini bisa dibilang satu-satunya pasar yang bekerja sama dengan pihak ketiga dan belum direvitalisasi. Pasar lain sudah, rata-rata hampir 40 tahun lalu,” ujar Bayu.

Menurutnya, DPRD Kota Malang sejak awal intens berkomunikasi dengan pedagang serta Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang. Pada APBD Perubahan 2025, Komisi B mendorong penganggaran penyusunan Detail Engineering Design (DED) sebagai syarat utama pengajuan ke pemerintah pusat.

“DED ini wajib secara teknis. Alhamdulillah, DED sudah rampung Desember kemarin. Setelah itu kami sepakat mengajukan ke pusat karena APBD terbatas dan transfer ke daerah juga minim,” jelasnya.

Proposal revitalisasi Pasar Tawangmangu beserta DED bahkan telah dibawa langsung ke Kementerian Perdagangan. Bayu menilai momentum pengajuan sangat tepat karena aspirasi daerah disampaikan langsung ke Presiden melalui Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri.

“Hari itu juga Dirjen menyampaikan ada beberapa usulan daerah yang akan dibawa ke Presiden. Harapannya Pasar Tawangmangu bisa masuk, paling lambat 2027, tapi mudah-mudahan bisa terealisasi 2026,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil DED, nilai anggaran revitalisasi Pasar Tawangmangu yang diusulkan ke APBN mencapai sekitar Rp35 miliar.

Bayu menegaskan kondisi Pasar Tawangmangu saat ini sudah tidak layak. Mulai dari atap bocor, saluran drainase rusak, hingga kesan kumuh yang membuat pembeli enggan masuk ke area pasar.

“Banyak bocoran, gorong-gorong rusak. Akhirnya pembeli malas masuk, pedagang juga keluar dan muncul PKL di luar pasar,” katanya.

Lewat revitalisasi, pasar akan ditata ulang agar pedagang kembali masuk dan aktivitas jual beli lebih tertib. Konsepnya mengadopsi pasar yang telah sukses direvitalisasi seperti Pasar Oro-oro Dowo dan Pasar Klojen.

Bayu memastikan keberadaan kafe dan usaha kopi di kawasan Pasar Tawangmangu tetap dipertahankan.

“Bukan dihilangkan. Justru itu nilai tambahnya. Seperti Oro-oro Dowo dan Klojen, story-nya bagus. Tawangmangu juga punya modal itu,” ujarnya.

Respons pedagang terhadap rencana revitalisasi disebut sangat positif. Bayu mengaku telah berkomunikasi langsung dengan paguyuban pedagang dan mayoritas mendukung.

“Mereka sangat berharap pasar ini direvitalisasi. Sudah hampir 40 tahun tidak tersentuh pembangunan. Mayoritas setuju, meskipun pasti ada satu dua yang berbeda pendapat,” tuturnya.

Saat ini, jumlah pedagang Pasar Tawangmangu diperkirakan hanya ratusan, dengan banyak lapak tidak aktif akibat sepinya pembeli.

“Kita doakan dan kawal bersama proses ini di pusat. Mudah-mudahan bisa segera terealisasi pada 2026,” pungkas Bayu. (bob)