Kabupaten Malang, blok-a.com – Predikat sebagai salah satu sekolah hijau di Kabupaten Malang bukan sekadar label bagi SMPN 3 Kepanjen. Sekolah yang dikenal memiliki area terluas di Kecamatan Kepanjen itu menerapkan pengelolaan sampah mandiri dengan mengolah limbah daun menjadi kompos bernilai ekonomis.
Kepala Sekolah SMPN 3 Kepanjen, Margono Sujono Hadi melalui Koordinator Kesiswaa Atim Mulyati, mengatakan bahwa karakter sekolah yang dipenuhi pepohonan membuat sampah daun menjadi jenis sampah terbanyak. Karena itu, sekolah mengembangkan sistem pengolahan sampah organik secara berkelanjutan.
“Sekolah kami ini memang hijau karena areanya luas dan tumbuhannya banyak. Biar anak-anak itu nggak kekurangan oksigen. Suasananya sejuk, nyaman, dan mendukung proses belajar,” katanya.
Namun kondisi tersebut membuat produksi sampah daun sangat besar setiap harinya. Hal itulah yang mendasari SMPN 3 Kepanjen untuk mulai memikirkan pengelolaan sampah yang lebih serius dan bermanfaat bagi.
Menurut Atim, pengelolaan sampah daun menjadi pupuk kompos ini dimulai sejak 7 tahun yang lalu. sampah daun yang jatuh setiap hari dikumpulkan ke tempat penampungan khusus sebelum diproses lebih lanjut.
“Sejak sekitar tahun 2018 kita mengelola sampah dengan mandiri. Sampah daun itu kita masukkan ke TPA kecil yang sudah kami siapkan. Kemudian digiling, meskipun tidak setiap hari karena kami terbatas tenaga. Biasanya kita jadwalkan,” jelasnya.
Proses penggilingan dilakukan baik untuk daun kering maupun yang masih basah. Setelah digiling, sampah diberi cairan pengurai atau MP4 untuk mempercepat pembusukan dan penghancuran. Sementara itu, untuk sisa sampah yang masih kasar akan diproses ulang.
“Setelah hancur, sampah itu diayak biar lebih halus. Yang halus itu baru jadi kompos. Yang masih kasar diberikan pengurai, digiling lagi, begitu terus sampai halus,” imbuh Atim.
Kompos hasil olahan SMPN 3 Kepanjen telah dipasarkan kepada masyarakat, terutama ketika sekolah mengikuti pameran pendidikan. “Setiap ada pameran Hardiknas atau HUT Kabupaten Malang, pasti kompos itu kita tampilkan,” kata Atim.
Satu kemasan kompos berbobot sekitar 5 kilogram dijual dengan harga Rp5.000 hingga Rp7.000. Produk ini pun sudah mulai dikenal masyarakat karena kualitasnya yang baik dan ramah lingkungan.
Tidak hanya daun, sampah anorganik di sekolah juga dimanfaatkan sebagai bahan karya siswa. Botol plastik misalnya, diolah menjadi ecobrick yang digunakan sebagai kursi atau media belajar kolaboratif.
“Dari botol aqua, anak-anak isi sampah plastik, dipadatkan, lalu dirangkai jadi kursi. Itu juga pernah dipakai untuk kolaborasi mapel IPS, tema perubahan iklim,” terang Atim.
Atim menegaskan bahwa pengelolaan sampah di SMPN 3 Kepanjen bukan sekadar memenuhi penilaian Adiwiyata, tetapi sudah menjadi budaya sekolah. Setiap sudut sekolah dirancang ramah anak dan ramah lingkungan, mulai dari ruang hijau, area duduk di bawah pohon, hingga sistem pengelolaan sampah mandiri.
“Tujuannya bukan hanya bersih, tapi juga mengajarkan anak-anak bagaimana sampah itu bisa bernilai, bisa jadi produk, bahkan bisa menghasilkan dampak ekonomi,” pungkasnya. (yog/bob)








