Sekolah Unggulan Ditarget Mampu Bikin 10 Ribu Siswa Berprestasi Akademik di Kabupaten Malang

Bupati Malang, HM Sanusi saat berada di salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Malang (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Bupati Malang, HM Sanusi saat berada di salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Malang (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Malang terus memperkuat pelaksanaan Program Sekolah Unggulan sebagai upaya mencetak siswa berkarakter dan berprestasi. Program yang bekerja sama dengan Universitas Negeri Malang (UM) ini diharapkan mampu mencetak siswa berprestasi dari lingkup pendidikan di Kabupaten Malang.

Kepala Dispendik Kabupaten Malang, Suwadji, menjelaskan bahwa pendampingan intensif terhadap guru, kepala sekolah, komite, hingga pengawas saat ini masih berjalan dan akan rampung pada pertengahan Desember 2025 mendatang. Pendampingan itu meliputi untuk penguatan, peningkatan kompetensi, dan penyusunan strategi.

“Ini nanti akan berakhir di tanggal 15 Desember. Itu nanti akan ada hasil berupa laporan akhir pendampingan dari UM,” ujar Suwadji.

Melalui program ini, Dispendik menargetkan seluruh sekolah unggulan mampu membentuk siswa dengan empat kompetensi utama.

“Output-nya bahwa sesuai itu harus memiliki 4 kompetensi yakni cerdas, nasionalis, religius, dan kompetitif,” jelasnya.

Ia menjelaskan, kecerdasan akademik tetap menjadi pilar utama, namun karakter nasionalis juga penting agar siswa tidak mudah terpengaruh paham ekstrem. Sementara itu, kompetensi religius menjadi fondasi perilaku siswa dalam menjalankan ajaran agama masing-masing.

“Aspek terakhir, kompetitif, bertujuan agar lulusan sekolah di Kabupaten Malang mampu bersaing dengan daerah lain,” tuturnya.

Di akhir tahun, Dispendik akan menggelar monitoring dan evaluasi (monev) serta laporan akhir untuk menentukan keberlanjutan program. Hal itu sebagai monev yang akan menghasilkan keputusan apakah program sekolah unggulan ini akan bertambah di Kabupaten Malang.

“Monev sama laporan akhir. Dari situ kalau memang harus ditambah, keputusannya masih ada dari hasil monev. Tapi kemungkinan bertambah,” kata Suwadji.

Selain menyusun strategi pembelajaran, Dispendik terus berkoordinasi dengan pihak UM untuk mendata sarana-prasarana sekolah. Pendataan ini meliputi sepuluh indikator utama dan menjadi dasar untuk menentukan sekolah-sekolah yang siap naik kelas menjadi sekolah unggul.

“Untuk melihat, memotret, mengidentifikasi sarana-prasarana yang tepat, kami juga menggandeng UM. Sekarang juga sedang berjalan,” beber Suwadji.

Suwadji menjelaskan, salah satu indikator keberhasilan program Sekolah Unggul adalah jumlah siswa yang mampu meraih nilai rata-rata 9. Pada tahun sebelumnya, jumlahnya mencapai 4.900 siswa. Tahun depan, Dispendik menargetkan kenaikan signifikan menjadi 10 ribu siswa.

“Untuk menggapai angka sesuai target yakni dua kali lipat akan kita maksimalkan,” tegasnya.

Suwadji menambahkan bahwa penilaian kini tidak lagi berdasarkan standar sekolah, melainkan standar nasional melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan beberapa parameter tambahan.

“Meraih itu kan sulit, mempertahankan lebih sulit. Tapi kami dengan kepala sekolah, dengan pengawas, dengan guru berkomitmen untuk terus meningkatkan jumlah anak yang memiliki nilai rata-rata sembilan.” pungkasnya. (yog/bob)