Malang, Blok-a.com – Universitas Islam Malang (UNISMA) menggandeng Tim Penggerak PKK (TP PKK) Desa Ketindan, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, dalam program pengabdian kepada masyarakat bertajuk pengolahan limbah kulit kopi menjadi kombucha, minuman pangan fungsional berbasis probiotik.
Program ini didanai melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), dengan total dana hibah yang diterima sebesar Rp42.500.000. Informasi tersebut dapat dirujuk dalam kontrak induk Nomor 210/C3/DT.05.00/PM/2026, serta kontrak turunan Nomor 017/LL7/DT.05.00/PM/2026 dan Nomor 184/G164/U.LPPM/K/B.07/IV/2026.
Program berlangsung selama kurang lebih lima bulan, sejak akhir April hingga awal September 2026. Dirancang sebagai model ekonomi sirkular berbasis potensi lokal desa.
Dalam pelaksanaannya, program ini dipimpin oleh Dina Kartika Sari, ketua program sekaligus dosen Program Studi Agribisnis UNISMA. Bersama dua anggota tim pelaksana, yaitu Anita Qur’ania dari Program Studi Agroteknologi yang menangani sisi teknis produksi. Juga Lia Rohmatul Maula yang berfokus pada inovasi produk dan pengemasan.
Selain itu, pelaksanaan program di lapangan turut didukung oleh dua mahasiswa pendamping, M. Alaikal Atiiq dan Muhammad Abdul Adhim. Keduanya bertugas mendampingi kegiatan teknis serta dokumentasi dari awal hingga evaluasi akhir program.

Desa Ketindan sendiri dikenal sebagai salah satu sentra kopi robusta di Kabupaten Malang. Lebih dari seperlima warganya bekerja di kebun kopi, baik sebagai petani maupun buruh tani kopi. Setiap kali panen, Desa Ketindan menghasilkan limbah kulit kopi dalam volume besar, mencapai sekitar 400 kilogram dari setiap satu ton buah kopi.
Program dilakukan untuk lebih memberdayakan TP PKK Desa Ketindan. Dilakukan secara bertahap, agar anggota tidak hanya menguasai aspek teknis produksi, tetapi juga manajemen usaha, termasuk pengetahuan pemasaran. Pada akhir program juga dilakukan evaluasi untuk mengetahui efektivitasnya.
Dina Kartika Sari menjelaskan, pendekatan bertahap ini sengaja dirancang agar TP PKK Desa Ketindan mampu naik kelas dari kelompok sosial menjadi kelompok ekonomi produktif.
“Ibu-ibu di sini sebelumnya sudah pernah produksi teh kulit kopi namun nilai ekonominya belum benar-benar terlihat. Sehingga program ini melanjutkan dengan pelatihan kombucha beserta standar produksi, pengemasan, hingga kemampuan mengelola usaha secara mandiri dan pengetahuan pemasaran terkait kombucha itu sendiri,” ujarnya.
Melalui pendampingan yang didukung penuh oleh hibah Kemendiktisaintek ini, limbah kulit kopi yang selama ini terbuang dan berisiko mencemari lingkungan. Diharapkan dapat dikonversi menjadi produk pangan fungsional bernilai ekonomi. Sekaligus memperkuat peran perempuan desa dalam pembangunan ekonomi hijau berbasis potensi lokal. (ova)








