Kabupaten Malang, blok-a.com – Banyak masyarakat mengira musim hujan menjadi periode dengan suhu udara paling dingin di Malang. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan justru musim kemarau membuat suhu udara lebih rendah, terutama pada malam hingga dini hari.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang, Linda Fitrotul, mengatakan mondisi tersebut dipengaruhi minimnya tutupan awan sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer. Ia mengungkapkan, hujan justru membuat suhu minimum meningkat sehingga udara terasa lebih hangat dibandingkan saat langit cerah pada musim kemarau.
“Kalau hujan malah biasanya lebih hangat. Sebelum hujan suhu minimum sekitar 17 sampai 18 derajat Celsius, kemudian setelah hujan kembali sekitar 20 derajat Celsius,” kata Linda saat dikonfirmasi, Kamis (2/7/2026).
Ia menambahkan kondisi tersebut terjadi karena hujan selalu disertai tutupan awan yang berfungsi menahan pelepasan panas dari permukaan bumi.
“Kalau suhunya dingin banget biasanya tutupan awannya tidak ada, langit cerah. Saat hujan kan ada awan, jadi seperti ada selimutnya. Panas dari permukaan bumi tidak langsung lepas, sehingga udara terasa lebih hangat,” terangnya.
BMKG memperkirakan cuaca di wilayah Malang masih didominasi kondisi cerah dalam sepekan ke depan. Sementara fenomena suhu dingin diprediksi masih akan berlangsung hingga puncak musim kemarau pada Agustus mendatang.
Linda menyebut fenomena tersebut merupakan siklus tahunan yang umum terjadi selama musim kemarau, khususnya pada Juli hingga September.
“Kalau seminggu ke depan masih dingin seperti ini. Belum ada potensi hujan berdasarkan prakiraan saat ini. Tapi karena kita berada di wilayah tropis, cuaca cepat sekali berubah sehingga memang harus terus di-update,” ujar Linda.
Di sisi lain, apabila hujan terjadi di tengah musim kemarau, penyebabnya umumnya dipengaruhi faktor-faktor lokal, seperti kondisi topografi, tekanan udara, maupun pemanasan pada wilayah dengan cakupan yang lebih kecil.
“Kalau terjadi hujan, biasanya lebih ke faktor-faktor lokal, mungkin topografinya, tekanan udara, atau pemanasan di suatu daerah,” pungkasnya. (yog/bob)








