Film Sekawan Limo 2 Angkat Gunung Kawi, Disparbud Kabupaten Malang Bidik Efek Wisata & UMKM

Film Sekawan Limo 2 Angkat Gunung Kawi, Disparbud Kabupaten Malang Bidik Efek Wisata & UMKM
Poster film Sekawan Limo 2 : Gunung Klawih yang mengambil lokasi syuting di Kabupaten Malang (istimewa)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang menyambut positif pemilihan kawasan Gunung Kawi dan sekitarnya sebagai lokasi syuting film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih. Kolaborasi industri perfilman dengan sektor pariwisata itu diyakini mampu mendongkrak promosi wisata hingga perputaran ekonomi masyarakat.

Kepala Disparbud Kabupaten Malang, Firmando H Matondang, mengatakan produksi film yang digarap Starvision bersama Skak Studios itu menjadi peluang besar untuk memperkenalkan potensi wisata Kabupaten Malang ke tingkat nasional.

“Ini adalah sebuah kehormatan sekaligus peluang emas bagi sektor pariwisata kita. Kabupaten Malang memiliki kekayaan alam, sejarah dan budaya yang luar biasa. Melalui sentuhan Mas Bayu Skak di film Sekawan Limo 2 ini, pesona visual tersebut dikemas dengan sangat apik, sehingga siap dinikmati dan memikat jutaan pasang mata di seluruh Indonesia,” kata Firmando.

Film yang dijadwalkan tayang pada 27 Mei 2026 tersebut mengangkat genre komedi horor dengan latar alam pegunungan khas Malang. Menurut Firmando, visualisasi kawasan Gunung Kawi dalam film diyakini bakal menarik rasa penasaran penonton untuk datang langsung ke lokasi.

“Langkah strategis ini langsung mendapat sorotan positif dari berbagai pihak, terutama dalam mendukung kebangkitan sektor pariwisata daerah,” tambahnya.

Disparbud juga melihat potensi munculnya tren set-jetting atau wisata berbasis lokasi syuting film. Fenomena itu dinilai mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke daerah yang muncul dalam tayangan layar lebar.

Keputusan Bayu Skak bersama tim produksi mengeksplorasi alam dan cerita lokal Gunung Kawi disebut menjadi nilai lebih bagi promosi wisata Kabupaten Malang.

“Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang menaruh harapan yang sangat besar terhadap dampak jangka panjang dari film ini. Dukungan penuh yang diberikan sejak masa produksi hingga masa tayang. Kedepannya diharapkan mampu menciptakan efek domino (multiplier effect) yang positif bagi kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Firmando menilai dampak film tersebut tidak hanya berhenti pada sektor pariwisata. Efek lanjutan juga diperkirakan dirasakan pelaku usaha lokal mulai penginapan, pusat oleh-oleh, kuliner hingga jasa wisata.

“Kami di pemerintahan sangat optimis. Fenomena set-jetting ini nyata. Ketika penonton penasaran dengan eksotisme ‘Gunung Klawih’ di film ini, mereka pasti akan datang berkunjung ke sini,” imbuhnya.

Pemkab Malang berharap kolaborasi sektor kreatif dan pariwisata seperti ini terus berkembang. Selain memperkuat branding daerah sebagai destinasi wisata unggulan di Jawa Timur, dampaknya juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat secara lebih luas. (yog/bob)