Orang Tua dan Guru Perlu Kerja Sama Cegah Perilaku Bullying di Sekolah

Program parenting bertajuk ‘Strategi Orang Tua dan Guru dalam Mengatasi Bullying’, di SDN Bakalan Krajan 2, Rabu (20/12/2023).
Program parenting bertajuk ‘Strategi Orang Tua dan Guru dalam Mengatasi Bullying’, di SDN Bakalan Krajan 2, Rabu (20/12/2023).

Kota Malang, blok-a.com – Kasus perundungan atau bullying di sekolah menjadi masalah sosial yang kian meluas. Bullying bukan hanya sekadar kenakalan remaja, tetapi dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental dan emosional anak-anak.

Anak-anak mungkin mengalami masalah psikologis dan depresi, yang dapat menyebabkan rendahnya prestasi di sekolah.

Oleh karena itu, peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan untuk mencegah perilaku bullying.

Menyadari pentingnya hal tersebut, SDN Bakalan Krajan 2 Kota Malang menggelar program parenting bertajuk ‘Strategi Orang Tua dan Guru dalam Mengatasi Bullying’, Rabu (20/12/2023).

Pemahaman seputar perilaku bullying, dampaknya terhadap anak, hingga langkah pencegahannya dikupas tuntas dalam kegiatan ini.

“Secara garis besar, acara ini digelar untuk membangun kesadaran kita bersama, menyelamatkan anak-anak kita dunia dan akhirat,” kata Ketua Komite SDN Bakalan Krajan 2, Dr Eny Nur Aisyah, S.Pd.I., M.P.

Menurut Eny, orang tua juga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung pertumbuhan anak-anak mereka secara positif.

“Anak-anak kita adalah amanah dari Allah SWT. Jangan sampai kita lalai. Karena tugas mendidik dan mengasuh tetap pada orang tua. Sekolah membantu untuk mengantarkan putra putri kita menggapai cita-citanya. Sehingga tugas mendidik bukan hanya ada di bapak ibu guru,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SDN Bakalan Krajan 2 Hanik Latifah, S.Pd, M.Pd menekankan pentingnya pemahaman orang tua dan guru seputar tindakan bullying yang kerap disepelekan.

“Supaya SDN Bakalan Krajan 2 bebas bullying, maka kita kuatkan dengan kegiatan parenting. Karena bullying kadang tidak disadari terjadi di kalangan siswa. Tapi kalau diingatkan jawabnya cuma bercanda. Itu yang perlu menjadi perhatian kita bersama,” tegas Hanik Latifah.

“Ini tidak hanya untuk wali murid. Bapak Ibu guru harus paham juga. Karena kita mendidik putra putri kita secara bersama-sama,” lanjutnya.

Terlebih, menurutnya, di zaman yang serba canggih ini, perilaku anak-anak kadang kala dipengaruhi oleh teknologi yang mereka kuasai.

“Kalau kita tidak mengendalikan anak-anak kita, kita yang akan kerepotan. Apalagi di zaman sekarang anak-anak bisa dengan mudah mengakses ke media sosial. Maka kita perlu secara bersama mendidik putra putri kita dengan disiplin positif,” ujar kepada puluhan wali murid yang hadir dalam acara tersebut.

Dewi Yuhana sebagai narasumber, memaparkan bahwa pemahaman terhadap perilaku bullying pada anak dimulai dari lingkungan terkecil mereka, yakni keluarga.

Program parenting bertajuk ‘Strategi Orang Tua dan Guru dalam Mengatasi Bullying’, di SDN Bakalan Krajan 2, Rabu (20/12/2023).

Praktisi komunikasi yang juga pengurus Himpunan Psikologi (HIMPSI) Cabang Malang ini, menjelaskan bullying bisa diartikan sebagai tindakan negatif yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok siswa secara berulang dengan tujuan menyakiti atau mengintimidasi siswa lainnya.

Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), ada sebanyak 2.355 kasus bullying yang telah dilaporkan. 861 di antaranya terjadi di lingkungan sekolah.

“Ini menjadi masalah jika anak kita melakukan atau mendapatkan bullying dari temannya. Bentuk bullying tidak melulu kekerasan fisik, tapi juga bisa secara verbal, penindasan, bahkan perundungan siber atau cyberbullying di media sosial,” kata perempuan yang akrab disapa Hana ini.

Hana mengajak para orang tua untuk lebih peka terhadap kondisi anak. Cara paling efektif untuk menyampaikan edukasi seputar perilaku bullying bisa dimulai dengan membiasakan anak agar selalu bersikap jujur dan terbuka.

Selain itu, orang tua juga perlu mengakui kesalahan yang diperbuat anak dan rutin memberikan pemahaman serta evaluasi. Terlebih kepada anak-anak yang cenderung melakukan tindakan bullying di sekolah.

“Jika Bapak Ibu ingin anaknya menjadi seseorang yang hebat, Bapak Ibu mengajarkan Do’s and Don’ts-nya. Jangan atas nama kasih sayang dengan anak, kita membela mati-matian padahal dia yang salah. Kita harus legowo karena ini untuk jangka panjangnya,” ujar Hana kepada para wali murid.

Hana yang juga Direktur Good Word School of Communication ini turut memaparkan berbagai pemicu tindakan bullying di sekolah. Di antaranya adalah karena anak mengalami masalah di rumah, faktor teman sebaya, sampai sebatas alasan kesenangan saja.

Sehingga, orang tua diimbau untuk lebih memperhatikan tumbuh kembang anak di rumah, serta mengajarkan perilaku disiplin secara konsisten.

“Jika anak kecil terbiasa melakukan kesalahan dan tidak mendapatkan pengetahuan dari orangtuanya dia akan menganggap itu biasa saja,” kata Hana.

“Ketika Bapak dan Ibu membuat aturan di rumah, aturan tersebut berlaku untuk semuanya secara konsisten. Kalau melanggar ada konsekuensinya, diobrolkan sama anak,” sambungnya.

Sementara, jika anak menjadi korban bullying, orang tua perlu memberikan dukungan moral secara penuh dan melatih anak agar lebih percaya diri.

Hana meminta para wali murid agar selalu mendorong dan membantu anak agar mampu berteman secara positif, berani dan bersikap tegas, serta tahu kapan meminta bantuan jika terjadi aksi bullying.

Selain itu, para guru juga diharapkan ikut aktif melakukan pengawasan tingkah laku para siswa mereka. Serta menyadari tanda-tanda awal anak yang menjadi korban dan pelaku bullying.

Program parenting bertajuk ‘Strategi Orang Tua dan Guru dalam Mengatasi Bullying’, di SDN Bakalan Krajan 2, Rabu (20/12/2023).

Para wali murid terlihat begitu antusias menyimak seluruh rangkaian edukasi parenting seputar bullying ini.

Salah satu wali murid, Roshida, mengatakan bahwa edukasi bullying sangat ditunggu-tunggu para orang tua. Terlebih belakangan kasus bullying di sekolah tengah marak dan bahkan menelan korban.

“Kasus bullying ini bahaya banget dan nggak disadari terjadi di mana-mana. Kami orang tua jadi was-was juga. Jadi saya bersyukur sekali dapat masukan soal bullying, solusi dan cara pencegahannya juga. Orang tua memang perlu diedukasi semacam ini buat menguatkan dan mengajarkan anaknya,” tandasnya. (lio)