Pasca Revitalisasi, Skater Soroti Lampu dan Lantai Skatepark Alun-Alun Malang

Izad, saat bermain skateboard di Skatepark Alun-alun Merdeka. (blok-a.com / M Berril Labiq)
Izad, saat bermain skateboard di Skatepark Alun-alun Merdeka. (blok-a.com / M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Sejumlah pegiat skateboard menyoroti kondisi dan fungsi skatepark di kawasan Alun-Alun Merdeka Kota Malang meski perbaikan fasilitas mulai dilakukan. Keluhan mencakup persoalan penerangan, kualitas lantai, hingga penyalahgunaan area skatepark sebagai tempat bermain anak-anak.

Agus Maulana Arifin, pemain skateboard, mengatakan perbaikan obstacle dan lantai skatepark yang sebelumnya rusak patut diapresiasi. Menurutnya, perhatian pemerintah menjadi langkah awal yang positif bagi komunitas skateboard.

“Sebagai anak skate ya sangat berterima kasih, soalnya sudah ada perhatian dari pemerintah. Obstacle yang pecah-pecah dan bolong itu sudah tertangani, termasuk lantai skatepark,” kata Arifin sapaan akrabnya, Kamis (5/2/2026).

Namun demikian, Arifin menilai persoalan penerangan masih menjadi masalah serius. Ia menyebut lampu skatepark sebelumnya kerap tidak menyala, bahkan pernah hilang, sehingga membahayakan pemain yang beraktivitas pada malam hari.

“Lampu dulu kurang terang, bahkan sering mati. Padahal banyak anak skate mainnya malam karena siang kerja atau sekolah,” ujarnya.

Selain itu, Arifin juga menyoroti penggunaan skatepark oleh anak-anak kecil untuk bermain perosotan. Kondisi tersebut, menurutnya, kerap memicu konflik antara skater dan orang tua anak.

“Anak kecil main prosotan di area skatepark itu sangat berbahaya, padahal sudah disediakan playground. Kalau ditegur orang tuanya nggak terima. Kalau sampai kena papan, kasihan, tapi ujungnya yang disalahkan ya anak skate,” katanya.

Keluhan lain disampaikan Izad, pemain skateboard, yang menilai persoalan fasilitas skatepark tidak sebanding dengan perkembangan komunitas skateboard di Kota Malang. Ia menyebut secara sistem, komunitas dan regenerasi skater sudah berjalan dengan baik.

“Kalau secara sistem sebenarnya sudah terbentuk. Regenerasi jalan, komunitas ada, atlet juga ada. Tapi fasilitasnya belum mendukung, kan sayang, bahkan dari skateboard ini sudah membawa Indonesia sampe ke Asean Games, World Skate, dan kejuaran lainnya,” kata Izad.

Pria yang sudah melanglang buana di dunia skateboard dari tahun 2006 ini mengutarakan, salah satu masalah utama berada pada kualitas lantai skatepark akibat kesalahan metode pengecoran sejak awal pembangunan. Menurutnya, kondisi tersebut membuat skater merasa tidak aman.

“Dari awal sistem cor-nya sudah salah. Skatepark itu seharusnya dicor per petak seperti parkiran mall, supaya kuat dan retaknya tidak merata,” jelas Izad.

Izad berharap ke depan pemerintah melibatkan skater yang memahami teknis dalam perencanaan dan pembangunan skatepark agar fasilitas yang dibangun benar-benar sesuai kebutuhan.

“Kami berharap kalau memang mau bangun atau renovasi skatepark, gandeng skater yang paham. Biar hasilnya proper dan aman,” katanya.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, mengatakan perbaikan skatepark saat ini masih dilakukan sesuai perencanaan awal.

“Untuk skatepark, kebetulan kita hanya melakukan perbaikan. Memang di perencanaan awal itu hanya pengecatan, belum sampai keperbaikan. Kita nanti akan mencoba tambahan untuk bantuan apakah itu CSR atau branding Bank Jatim lagi,” ujar Raymond.

Terkait penggunaan skatepark oleh anak-anak, Raymond menyebut pihaknya tengah mengkaji penataan lanjutan, termasuk pemasangan pembatas agar fungsi skatepark tidak bercampur dengan area bermain anak.

“Nanti akan kita coba buat permanen, dalam arti ada pagar pembatas supaya tidak semua anak-anak kecil bisa masuk. Ke depan kita juga akan kerja sama dengan KONI dan atlet atau komunitas skateboard,” tutupnya. (ber/bob)