Kota Malang, blok-a.com – Patung Buto yang berdiri di depan Stasiun Malang atau yang lebih dikenal dengan nama Stasiun Kota Baru bukan sekadar hiasan kota, melainkan menyimpan makna simbolik perjuangan rakyat melawan penjajah. Patung yang juga biasa disebut dengan Monumen Juang 45 Malang ini merupakan simbol perlawanan rakyat Malang terhadap penjajah.
Dosen Sejarah sekaligus Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi, menyebut monumen tersebut diperkirakan dibangun pada era 1975-an sebagai bentuk peringatan kemerdekaan Indonesia.
“Berdiri kemungkinan tahun 75-an, itu Monumen Juang 45 untuk peringatan kemerdekaan, terutama dari Jepang,” ujarnya, Kamis (19/3/2026)
Ia menambahkan, lokasi monumen sengaja dipilih di titik strategis karena sejak masa kolonial menjadi poros lalu lintas utama menuju Kota Malang, baik melalui jalur kereta api maupun terminal lama di kawasan Pattimura.
“Dari masa kolonial itu memang poros kedatangan orang ke Malang. Bisa jadi itu alasan kalau monumen itu ditaruh di sana,” tambahnya.
Secara visual, monumen tersebut menampilkan sosok rakyat yang melawan figur raksasa. Menurut Rakai Hino, raksasa itu merupakan simbol penjajah yang digambarkan bengis dalam berbagai literatur klasik.
“Raksasa itu simbol penjajah, bisa Belanda atau Jepang. Dalam banyak naskah kuno, sosok raksasa atau buto memang identik dengan karakter negatif,” terangnya.
Meski terdapat figur-figur manusia dalam monumen, Rakai Hino menyebut belum ada bukti kuat yang menyatakan patung tersebut merepresentasikan tokoh sejarah tertentu dari Malang.
“Ada yang mengaitkan dengan tokoh lokal seperti Hamid Rusdi, tapi saya belum menemukan data sejarah yang memastikan itu,” ungkapnya.
Dari sisi fisik, ia menambahkan bentuk monumen tidak mengalami perubahan signifikan sejak pertama dibangun. Perubahan hanya terjadi pada pengecatan yang telah beberapa kali berganti warna.
“Dulu sempat putih, abu-abu, kemudian emas, sekarang coklat keemasan. Kalau bentuknya tetap sama seperti saat ini,” katanya.
Ia juga menyinggung pernah terjadi kerusakan kecil pada bagian relief akibat insiden kecelakaan, namun telah dilakukan restorasi tanpa mengubah bentuk asli.
“Pernah ada yang rompal karena tertabrak, tapi hanya direstorasi, bukan diubah total,” pungkasnya. (yog/bob)








