Kota Malang, blok-a.com – Nama Mbetek yang kini dikenal sebagai kawasan di sekitar Jalan Mayjend Pandjaitan, Kelurahan Penanggungan, Kota Malang, ternyata memiliki kaitan erat dengan kondisi alam dan aktivitas masyarakat pada masa lalu. Kawasan yang berada di tepi Sungai Brantas itu dulunya dikenal karena deretan rumpun bambu hingga sentra kerajinan gerabah.
Sejarawan Malang, Agung Buana, menjelaskan bahwa nama Mbetek berasal dari istilah masyarakat zaman dulu untuk menyebut pagar bambu atau barisan rumpun bambu yang berada di pinggir sungai.
“Orang zaman dulu nyebut pagar bambu itu Mbetek. Kalau bahasa Jawanya juga sering disebut barongan bambu,” jelas Agung, Kamis (21/5/2026).
Agung menambahkan, kawasan Mbetek dulunya dipenuhi rumpun bambu yang berjajar di sepanjang tepi Sungai Brantas. Selain menjadi penanda kawasan, bambu-bambu tersebut juga berfungsi sebagai penahan erosi dan longsor.
“Bambu-bambu itu berada di tepi Sungai Brantas dan bertindak sebagai penahan erosi atau longsor. Jadi terlihat seperti pagar yang memanjang,” lanjutnya.
Secara wilayah, kawasan Mbetek berada di sebelah barat Pabrik Es yang ada di kawasan Jalan Bogor Dalam. Area tersebut memanjang hingga ke belakang Rumah Sakit BRI dan mengikuti tepian sungai.
Selain Mbetek, masyarakat sekitar juga mengenal istilah Jenggrik untuk menyebut kawasan di sisi selatan Jalan Mayjend Pandjaitan. Agung menyebut, Jenggrik dalam bahasa Jawa merujuk pada lereng atau perengan.
“Jenggrik itu perengan atau lereng. Tapi bukan lereng gunung, melainkan lereng dari candi peninggalan pusat Kerajaan Kanjuruhan di Dinoyo,” katanya.
Tak hanya berkaitan dengan bentang alam, kawasan Betek dan Jenggrik juga memiliki hubungan erat dengan industri gerabah yang pernah berkembang di wilayah tersebut.
Pada masa itu, mayoritas warga di kawasan Mbetek disebut menggantungkan penghasilan dari industri gerabah. Mereka memproduksi berbagai kebutuhan rumah tangga seperti gentong, cobek, kendil, hingga tembikar.
“Dulu Mbetek terkenal sebagai sentra industri gerabah. Banyak warga bekerja membuat perlengkapan rumah tangga dari tanah liat,” ujar Agung.
Menurut Agung, keberadaan Sungai Brantas menjadi salah satu faktor utama berkembangnya industri tersebut. Kondisi tanah di sekitar tepi sungai dinilai sangat cocok untuk pembuatan tembikar dan berbagai peralatan rumah tangga dari tanah liat.
“Tanah di sekitar Mbetek itu bagus banget untuk pembuatan gerabah atau tembikar. Kandungan lempung dan airnya tinggi, jadi cocok dipakai membuat barang rumah tangga,” pungkasnya. (ber/bob)








